Di sinilah letak keistimewaan manusia. Secara naluri, manusia memiliki dorongan atau hasrat layaknya binatang.
Tetapi Allah mengistimewakannya dengan akal. Jika hidup hanya mengikuti insting, manusia turun derajat. Pun sebaliknya, jika akal memimpin insting, manusia naik derajat.
Baik dan buruknya emosi bukan terletak pada emosinya, tetapi pada siapa yang memegang kendali. Akal yang sehat menjadikan emosi sebagai energi kebaikan. Akal yang lemah menjadikan emosi sebagai sumber kerusakan.
Baca Juga : RS Ibnu Sina YW UMI Raih Penghargaan Transformasi Digital dari BPJS Kesehatan
Karena itu, banyak orang tidak sakit secara medis, tetapi hidupnya kacau secara batin. Bukan karena kurang kuat, melainkan karena akalnya lelah memimpin.
Ibnu Sina menegaskan bahwa jiwa dan tubuh saling mempengaruhi. Jiwa yang gelisah melemahkan tubuh. Tubuh yang diabaikan memperberat jiwa. Tidak ada kesehatan jiwa tanpa perawatan jasmani, dan tidak ada kesehatan jasmani tanpa ketenangan rohani.
Inilah sebabnya mengapa penyembuhan sejati tidak cukup dengan obat, tetapi juga membutuhkan kesadaran, makna, dan keterhubungan dengan Tuhan. Maka, ketika hidup terasa berat tanpa sebab yang jelas, mungkin yang kita butuhkan bukan tambahan pencapaian, tetapi pemulihan keseimbangan.
Baca Juga : Sisterfillah Perkenalkan Terapi Energi Senyum: Bisa Sembuhkan Masalah Mental dan Psikis!
Sebuah kedamaian yang tidak diwakilkan, oleh manusia atau keadaan, ”salamun qawlam mir rabbir rahim.”
Ia adalah firman yang turun langsung sebagai rasa, bukan ketegasan, bukan keperkasaan, melainkan rahmat yang paling lembut, seolah berbisik, “Tenanglah, Aku di sini.”
Dan ketika salam itu menyentuh jiwa, ketakutan runtuh satu per satu. Akal kembali jernih. Emosi menemukan tempatnya. Tubuh dan jiwa kembali berdamai. Di sanalah kesehatan mental mencapai maknanya yang paling dalam, berada dalam keadaan cukup, meski hidup tidak selalu mudah.
Baca Juga : Opera Air, Browser dengan Fitur Kesehatan Mental
Maka, sebelum menunggu sakit untuk peduli, mari mulai dengan satu langkah sederhana, menyayangi diri, menjaga keseimbangan jiwa, dan memberi akal ruang untuk memimpin. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
