Oleh-oleh Isra Mikraj Bukan untuk Langit, tapi untuk Bumi,
Rasulullah naik ke langit, tetapi oleh-olehnya diturunkan ke bumi, ketika Nabi Mikraj sesungguhnya Nabi sudah berada pada zona nyaman, apalagi sudah berjumpa dengan Allah, itulah kenikmatan yang paling puncak ketika seorang hamba bertemu dengan Rabb-NYA ( QS. Al-Kahfi 110), “Katakanlah (Nabi Muhammad), siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
Saking cintanya Nabi kepada ummatnya, sehingga beliau turun kembali kebumi, beliau selalu mengingat panggilan ummati. “Ummati.. ummati.. sehingga buru-buru untuk kembali ke bumi.
Baca Juga : Peristiwa Isra Mikraj: Dari Tahun Kesedihan Menuju Kemenangan Dakwah Islam
Tentu tujuannya adalah agar ummatnya menegakkan shalat 5 waktu, sehingga apabila shalat benar-benar ditegakkan, maka dapat menghalangi tangan dari korupsi,menjaga lisan dari fitnah, menahan hati dari kesombongan, menguatkan kejujuran,keadilan dan harkat kemanusiaan yang merupakan nilai-nilai universal kehidupan, Ummat tidak zalim, tidak memanipulasi agama,tidak membungkus kebatilan dengan simbol kesalehan,” tegasnya.
Sebagai penutup goresan di hari Jumat yang penuh berkah, izinkan saya menyimpulkan bahwa, jika Isra Mikraj hari ini terjadi, Nabi tidak akan bertanya:“Berapa rakaat shalatmu, Tetapi apa yang berhasil kau hentikan dari kebatilan setelah shalatmu?”
Inilah makna tanha ‘anil fahsya’i wal munkar dalam wajah Islam Berkemajuan..”Mari kita jadikan shalat bukan sekadar kewajiban,tetapi kekuatan moral yang membangun peradaban dan karakter mulia akhlaqul karimah.Walllahu a’llam ***
Baca Juga : Isra Mikraj dan Persatuan yang Kita Lupa, Diuji oleh Ego
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
