HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Ustad Kondang Ilham Hamid berbicara terkait hari Isra Mikraj dalam konteks Islam Berkemajuan.
Rasulullah tidak membawa oleh-oleh Isra Mikraj berupa benda, tetapi sebuah sistem peradaban, oleh-oleh yang sangat luar biasa yaitu shalat 5 waktu.
Dengan shalat itulah yang melahirkan manusia.
tanha ‘anil fahsya’i wal munkar”
(مَنْ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ)
QS. Al-‘Ankabut: 45
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Baca Juga : Peristiwa Isra Mikraj: Dari Tahun Kesedihan Menuju Kemenangan Dakwah Islam
Makna Tanha ‘Anil Fahsya’i wal Munkar, adalah bahwa shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar bukan berarti orang yang mengerjakan shalat itu lalu otomatis jadi baik, tetapi dengan ia melaksanakan dan atau menegakkan shalat berarti telah membangun sistem karakter, etika, adab,akhlak dan peradaban, inilah yang dimaksud Islam berkemajuan,” kata Ustad Ilham Hamid. yang juga merupakan sekretaris jurusan Manajemen Haji & Umroh UIN Alauddin Makassar ini , lebih lanjut menjelaskan bahwa mengapa shalat Ini disebut oleh-oleh Isra Mikraj,
oleh karena shalat: diterima langsung tanpa perantara malaikat,di luar ruang dan waktu dunia.
Menurut Prof Nasaruddin Umar bahwa Isra adalah perjalanan horizontal Rasulullah SAW yang masih bisa dijangkau oleh aqal, sementara Mikraj Nabi adalah perjalanan vertikal yang tak bisa dijangkau oleh aqal tetapi imanlah yang dapat menjangkaunya.
“Sekali lagi oleh-oleh terbesar Rasulullah adalah shalat. Shalat bukan ritual statis,tapi mesin peradaban dan kemajuan umat. Maka makna tanha ‘anil fahsya’i wal munkar hari ini bukan hanya soal maksiat individual, tetapi fahsya’ modern , munkar modern seperti korupsi berjamaah, manipulasi data, kekerasan verbal & digital, fitnah & hoaks pelecehan jabatan, penyalahgunaan kekuasaan,
hedonisme struktural & ketidakadilan sistem,” ucapnya.
Baca Juga : Isra Mikraj dan Persatuan yang Kita Lupa, Diuji oleh Ego
Lebih lanjut, ia menyebut jika shalat seseorang tidak membuatnya anti-korupsi, anti-hoaks, anti-kezaliman, maka shalatnya belum naik ke langit Isra’. Dalam Islam berkemajuan shalat berfungsi sebagai: Revolusi Etika, Revolusi Mental, dan Revolusi Sosial.
“Shalat sebagai revolusi etika bermakna untuk ,disiplin waktu, kejujuran niat, pengendalian diri, shalat sebagai revolusi mental maknanya bahwa setiap kita membaca Allahu Akbar berarti, kita membesarkan Allah tidak ada kekuasaan lebih tinggi dari kekuasaan Allah. Shalat sebagai Revolusi Sosial, yang diutamakan dalam shalat adalah dengan berjamaah , dengan shalat berjamaah akan menghapus, kelas sosial,status ekonomi, jabatan struktural, bahwa semua manusia sejajar di hadapan Tuhan,” tambahnya.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
