Membaca Demonstrasi Kecil di Era Amplifikasi Media
HARIAN.NEWS, GOWA – Di depan Gedung DPRD Kabupaten Gowa hari ini, suara-suara lantang dikumandangkan. Spanduk panjang dibentangkan. Kata-kata besar ditulis tebal: “Gowa Darurat.”
Baca Juga : Ahli Melihat Hak Angket DPRD Gowa dinilai Belum Penuhi Unsur Rasion De Etre
Kamera mengambil sudut terbaik. Foto dipilih yang paling dramatis. Narasi disusun seolah-olah sebuah gelombang besar sedang mengguncang tanah Gowa.
Namun, ketika kita menepi sejenak dari riuh visual itu dan menghitung dengan jernih: hanya 23 orang.
Dua puluh tiga.
Bukan dua ratus. Bukan dua ribu. Bahkan bukan representasi signifikan dari denyut sosial sebuah kabupaten yang hidup, bergerak, dan terus bertumbuh.
Di sinilah kita perlu berhenti, bukan untuk meremehkan hak berdemonstrasi—yang merupakan bagian sah dari demokrasi—tetapi untuk membaca fenomena ini dengan kacamata yang lebih tajam: pseudo event.
Baca Juga : DPRD Gowa Kaji Jawaban Bupati atas Rekomendasi RDPU, Soroti Tidak Adanya Klarifikasi Terbuka
Kita masih ingat istilah pseudo-event diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Daniel J. Boorstin, yang mengatakan bahwa dalam dunia modern, realitas seringkali bukan lagi sesuatu yang terjadi secara organik, melainkan sesuatu yang diproduksi untuk diliput.
Sebuah peristiwa tidak lagi lahir dari kebutuhan sosial yang mendesak, tetapi dari kebutuhan untuk terlihat penting.
Dan demonstrasi hari ini, jika kita jujur membaca tanda-tandanya, lebih dekat pada kategori itu. Sebuah aksi kecil, dengan jumlah terbatas, tetapi dikemas dengan simbol besar. Spanduk panjang bukan sekadar alat ekspresi, melainkan perangkat visual. Ia dirancang bukan untuk peserta aksi, tetapi untuk kamera. Ia tidak berbicara kepada publik yang hadir, tetapi kepada publik yang akan melihatnya melalui layar.
Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG
Di sinilah pseudo event bekerja: menciptakan ilusi skala. Foto diambil dari sudut yang menyamarkan jumlah. Frame dipersempit agar massa tampak padat.
Narasi disusun dengan diksi yang hiperbolik: “Gelombang protes,” “Masyarakat marah,” “Gowa darurat.” Kata-kata itu melayang bebas, tidak lagi berpijak pada proporsi realitas.
Namun peristiwa ini tidak berhenti di trotoar demonstrasi.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
