HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Sulawesi Selatan adalah salah satu daerah penghasil utama beras di Indonesia dengan berbagai jenis varietas yang dikembangkan.
Diantara berbagai varietas tersebut terdapat salah satu diantaranya yang disenangi oleh konsumen yaitu beras Ase Lapang dari kabupaten Pangkep.
Padi Ase Lapang merupakan salah satu varietas padi lokal Sulawesi Selatan yang banyak dimiliki, karena aroma yang harum dan rasa nasi yang pulen, saat ini tidak lagi banyak dijumpai dan hanya pada daerah-daerah tertentu.
Petani lebih memilih menanam padi berbagai varietas introduksi baru yang berumur lebih pendek dan potensi produksinya lebih tinggi.
Permasalahan yang dijumpai pada budidaya padi lokal antara lain umur panen relatif lama dan dapat mencapai 160 hari, sehingga membutuhkan waktu yang agak panjang dalam hal masa menunggu.
Serta dapat memperbesar resiko terjadinya serangan hama penyakit. Dampak dari umur panen yang panjang dan hasil produktivitas yang rendah adalah punahnya beberapa jenis padi lokal karena tersingkir oleh padi varietas introduksi.
Pada umumnya petani lebih suka membudidayakan padi yang berumur pendek
Penyebab lain semakin berkurangnya varietas lokal ditanam oleh petani karena padi ini disenangi oleh hama terutama hama wereng, dan penggerek batang karena baunya yang harum.
Sehingga untuk penggunaan pestisida juga memerlukan biaya yang besar. Apalagi jika dipertanaman berdekatan dengan padi introduksi, dimana peluang hama menyerang pula pada pertanaman padi yang ada di sekitarnya.
Bahkan untuk varietas padi lokal Ase Lapang yang ada di Kabupaten Pangkep tetap dianjurkan untuk ditanam karena dianggap varietas lokal petani.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
