Logo Harian.news

Kabut Asap Palembang Melanda Kesehatan Hingga Turunnya Omset Pedagang

Editor : Redaksi II Sabtu, 24 Oktober 2026 15:25
Sejumlah pengendara melintas di Jalan Kol H Burlian yang diselimuti kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (20/10/2026). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Sejumlah pengendara melintas di Jalan Kol H Burlian yang diselimuti kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (20/10/2026). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

HARIAN.NEWS, PALEMBANG – Berbulan-bulan asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membekap sejumlah daerah di Sumatra dan Kalimantan, termasuk Palembang yang merupakan ibu kota provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Bukan hanya kualitas udara buruk yang berpengaruh pada menurunnya kualitas kesehatan, perekonomian warga pun menjadi anjlok turun.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Baca Juga : Unjuk Rasa Mahasiswa di Makassar: Desak Presiden Prabowo Tuntaskan Karhutla

Salah satunya Yana (51), seorang pedagang pempek yang sudah belasan tahun berjualan di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang. Dapurnya memang masih mengepul sehari-hari, namun hati pemiliknya sudah lama tidak mengepul.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Sejak kabut asap karhutla intens membekap udara Palembang selama beberapa waktu terakhir, dia bilang pengap yang mengepul bukan lagi dari dandang di atas kompor, melainkan hatinya.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Jika biasanya dalam sehari ia bisa meraup setidaknya Rp1 juta, kini untuk menutup modal pun tak cukup. Penyebabnya adalah sepi. Kantin yang biasanya riuh oleh tawa dan diskusi mahasiswa kini sunyi senyap.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Baca Juga : Bencana Karhutla, DePA-RI Minta Presiden Prabowo Evaluasi Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup

“Mahasiswa belajar daring sudah hampir satu bulan,” kata Yana lirih dikutip CNNIndonesia.com, Sabtu (24/10/2026) pagi.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Akibat kabut asap, pihak kampus memberlakukan kuliah daring. Hampir satu bulan sudah kampus sepi tanpa mahasiswa.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Hal tersebut artinya omset menipis karena tak ada mahasiswa yang datang membeli. Bagi Yana, 15 tahun berjualan bukan waktu sebentar. Kantin ini adalah hidupnya.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Dan kini hidupnya ikut meredup bersama asap. Ia hanya berharap satu hal, pihak kampus tidak lagi memberlakukan kuliah online, dan asap segera hilang dari langit Palembang.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Yana, pedagang pempek di kantin UIN Raden Fatah Palembang yang mata pencahariannya terganggu kabut asap karhutla selama beberapa waktu terakhir.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Sementara itu di Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaiki metode penghitungan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan citra satelit untuk meningkatkan akurasi pemantauan.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Langkah tersebut dilaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto seiring penanganan karhutla di lima provinsi prioritas.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi menyampaikan laporan itu dalam Sidang Kabinet Paripurna Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

“Izin Bapak Presiden melaporkan bahwa sejak kami dilantik per tanggal 15 Oktober 2026, kami terus mengambil langkah memperbaiki metode penghitungan dengan menggunakan citra satelit,” kata Kristomei Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Kabinet RI, Jumat (23/10/2026).

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

BNPB menetapkan lima provinsi sebagai prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Dari lima wilayah tersebut, peningkatan kejadian karhutla tercatat di Sumatera Selatan dan Jambi. Namun, Kristomei menyebut kenaikannya belum terlalu signifikan.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

“Sehingga ada lima provinsi prioritas hari ini, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Dan untuk yang mengalami penaikan itu adalah di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi hari ini, tapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Selain memperbaiki pemantauan, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan penyemaian es kering (dry ice) untuk membantu memicu hujan di wilayah yang membutuhkan penanganan karhutla. Kristomei melaporkan sebanyak 3.100 kilogram es kering telah disemai sejak 20 Oktober melalui lima sorti penerbangan.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Sementara itu, di Sumatera Selatan, penyemaian dilakukan dalam satu sorti penerbangan dengan menggunakan 800 kilogram es kering.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Menurut Kristomei, upaya tersebut diikuti penurunan kadar partikulat di udara serta peningkatan jarak pandang di Palembang.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

“Sehingga ada penurunan PM (particulate matter/kadar polusi udara), PM 2, 2,5 turun, kemudian jarak pandang atau visibility di Palembang saya bisa dari 700 meter menjadi 7.000 meter,” kata Kristomei.

Baca Juga : Ada Bibit Kelapa Sawit di Area Bekas Karhutla

Baca Juga : MDA-Pemda Luwu Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Kekeringan dan Karhutla di Latimojong 

 

Dengan perbaikan metode penghitungan berbasis citra satelit dan operasi modifikasi cuaca, BNPB terus melakukan pemantauan serta penanganan karhutla di wilayah prioritas.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news

Follow Social Media Kami

KomentarAnda