Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Baca Juga : BPOM RI Dorong Harmonisasi Regulasi Kesehatan ASEAN Lewat Forum 4CRP, Taruna Ikrar Pimpin Delegasi Indonesia
HARIAN.NEWS, JAKARTA – Indonesia mulai memangkas pasokan gas bumi ke Singapura pada Sabtu (24/10). Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan sebagian pasokan gas yang diekspor kini dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama kelistrikan.
Djoko menjelaskan pengalihan pasokan dilakukan melalui dua jalur, yakni dari Natuna menuju Batam serta pengurangan pasokan gas dari Sumatra yang selama ini digunakan untuk kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
“Mulai hari ini pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri dari Natuna ke PLN Batam melalui Pipa WNTS-Pulau Pemping-Batam sebesar 15 juta standar kaki kubik,” kata Djoko, Sabtu (24/10/2026), melansir CNBC Indonesia.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Baca Juga : Wabup Gowa Dorong Pelaku UMKM Bawa Produk ke Pasar Ekspor
Selain itu, pemerintah mengurangi pasokan gas dari Sumatra ke Singapura sebesar 16 juta standar kaki kubik per hari melalui Pipa Transgasindo (TGI). Pengurangan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
“Dan, pengurangan pasokan gas ke Singapura dari Sumatra untuk keperluan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra sebesar 16 juta standar kaki kubik per hari, melalui Pipa TGI,” ujarnya.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Dengan demikian, volume gas yang dialihkan atau dikurangi dari pasokan ekspor ke Singapura mencapai total 31 juta standar kaki kubik per hari berdasarkan dua skema tersebut.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Djoko mengatakan kebijakan itu sejalan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, khususnya Pasal 8 ayat (1), yang mengatur prioritas pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
“Selanjutnya kami akan pantau terus perkembangannya secara harian,” ucapnya.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Djoko sebelumnya menegaskan penyesuaian ekspor gas hanya dilakukan untuk Singapura. Menurutnya, kebijakan tersebut berkaitan dengan jalur pipa yang menghubungkan Indonesia dengan negara tersebut.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
“Enggak ada (pemangkasan ke negara lain), pipanya kan ke Singapura saja,” kata Djoko saat ditemui di sela acara Subroto Awards 2026 Kementerian ESDM di The Westin, Jakarta, Jumat (23/10/2026) malam.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Rencana pengurangan ekspor gas ke negara tetangga sebelumnya disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Rabu (21/10/2026) lalu.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Bahlil mengatakan pemerintah tengah mempertimbangkan penghentian atau tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga dengan mempertimbangkan ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Ia mengaitkan langkah tersebut dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya menjaga kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan nasional di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
“Ya memang harus survival, kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden, pasti apa yang disampaikan Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks menuju survival,” kata Bahlil seusai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Bahlil juga menyebut pemerintah perlu mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan gas dalam negeri sebelum melanjutkan kontrak ekspor ke negara tetangga.
Baca Juga : Taruna Ikrar: Capaian WLA BPOM Jadi Magnet Investasi Sektor Kesehatan Global
Baca Juga : Komisi IV DPR RI Apresiasi Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
“Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” ia menegaskan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
