Logo Harian.news

Lipstik Effect: Ketika Rakyat Disuruh Tenang Soal Dolar, Dapur Rumah Pilih Bertahan Cara Sendiri

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 05 Juni 2026 13:42
Lipstik Effect: Ketika Rakyat Disuruh Tenang Soal Dolar, Dapur Rumah Pilih Bertahan Cara Sendiri (tangkaplayar_medsos)
Lipstik Effect: Ketika Rakyat Disuruh Tenang Soal Dolar, Dapur Rumah Pilih Bertahan Cara Sendiri (tangkaplayar_medsos)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Presiden Prabowo Subianto minta rakyat tidak pusing dengan dolar yang naik. “Biar jadi urusan pemerintah,” katanya. Pesan itu terdengar menenangkan, tapi respon di lapangan jauh lebih jujur. Tanpa aba-aba, lipstik effect kembali hidup. Merupakan fenomena ekonomi saat daya beli tertekan, orang menahan belanja besar tapi justru meningkatkan pembelian barang kecil murah untuk menjaga rasa mampu dan waras. Makanya muncul lonjakan penjualan lipstik Rp 20 ribu, kopi Rp13 ribu, snack, parfum . Bukan karena boros, tapi karena ini cara paling murah menjaga harga diri saat dompet lagi sesak.

Sebagai tugas negara, himbauan itu benar. Kurs, cadangan devisa, dan stabilitas moneter memang domain pemerintah. Yang jadi soal bukan ajakannya untuk tenang, tapi seberapa jauh ketenangan itu ditopang fakta di pasar. karena rakyat butuh bukti nyata bahwa kebutuhan dasar terkendali. Kalau harga beras, minyak, dan gas stabil, maka pengeluaran kecil untuk kesenangan diri itu jadi katup pengaman psikologis. Tapi kalau harga pangan tetap merayap naik, lipstik efek hanya jadi perban sementara sebelum frustrasi publik tumpah.

Baca Juga : Hari Lahir Pancasila 2026: Prabowo Tegaskan Transformasi Bangsa

Pola ini bukan baru. Setiap kali rupiah melemah dan inflasi menggigit, penjualan barang besar melambat sementara konsumsi simbolis murah justru naik. Data ritel dan e-commerce selalu menunjukkan itu. Masyarakat tidak berhenti belanja, mereka hanya memindahkan prioritas. Dari beli kulkas ke beli lipstik. Dari cicil motor ke langganan Netflix. Di situlah efek bekerja sebagai sinyal, ekonomi rumah tangga belum mati, ia hanya sedang bertahan dengan cara yang masuk akal.

Masalahnya, pemerintah tidak bisa berhenti di level komunikasi. Janji “bahan pokok tersedia dan terkendali” harus terlihat di pasar, bukan hanya di rilis pers. Operasi pasar harus jalan, rantai distribusi harus dipotong dari tangan tengkulak, pengawasan harga harus nyata. Kalau itu gagal, maka himbauan “jangan pusingi dolar” kehilangan legitimasi. Rakyat bisa tetap membeli lipstik untuk menjaga harga diri, tapi mereka tetap tahu mana janji dan mana kinerja.

Jadi biarlah pemerintah urus dolar. Urus dengan serius, dengan data, dengan intervensi yang terukur. Sementara itu, biarkan rakyat mengurus warasnya sendiri yang sederhana. Karena di negeri ini, ketahanan sering kali dimulai dari hal remeh, secercah warna di bibir, secangkir kopi di sore hari, dan kepastian bahwa besok masih bisa beli beras tanpa harus memilih antara makan dan harga diri. ***

Baca Juga : Demokrasi atau Ego?

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Penulis : IGA KUMARIMURTI DWIA ( PEMRED HARIAN.NEWS)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda