HARIAN.NEWS, LUWU – Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang temu antara harapan dan tindakan. Dimana PT Masmindo Dwi Area menyerahkan secara simbolis 450 tas sekolah, 350 unit meja dan bangku belajar, serta perlengkapan olahraga kepada sepuluh sekolah di wilayah operasionalnya.
Bantuan itu diterima Bupati Luwu bersama Kepala Dinas Pendidikan-bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai isyarat bahwa pendidikan di daerah tak boleh berjalan sendiri.
Baca Juga : Komit Taat Pajak, MDA Kembali Terima Penghargaan dari Pemkab Luwu
Di balik angka-angka bantuan itu, ada cerita tentang ruang kelas yang selama ini mungkin terlalu sempit, meja yang sudah aus, dan anak-anak yang belajar dengan keterbatasan. Kini, perlahan, ruang itu diisi ulang-bukan hanya dengan fasilitas, tetapi juga perhatian.
Namun yang lebih menarik justru lahir dari program bernama PELITA Luwu—Pembelajaran Edukatif dan Eksploratif Anak Luwu. Program ini dijalankan di enam sekolah dasar, mulai dari Boneposi hingga Salobulo, menjangkau anak-anak yang selama ini belajar dalam ritme yang mungkin monoton.
Di sana, belajar tak lagi sekadar duduk dan mencatat. Anak-anak bergerak dari satu pos ke pos lain, bermain sambil memahami. Tawa bercampur dengan rasa ingin tahu. Mereka belajar bekerja sama, mencoba, bahkan berani salah.
Baca Juga : MDA dan Indika Foundation Edukasi Siswa Luwu tentang Industri Tambang
Di bawah pendekatan ini, kelas bukan lagi ruang diam-ia menjadi arena hidup, tempat pengalaman menjadi guru. Program ini lahir dari kolaborasi antara MDA, Indika Foundation, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu. Sebuah kerja bersama yang mencoba menjawab satu hal sederhana: bagaimana membuat anak-anak tetap ingin belajar.
Kepala Teknik Tambang MDA, Mustafa Ibrahim, menyebut momentum Hardiknas sebagai pengingat bahwa pembangunan selalu berawal dari manusia.
Pernyataannya terdengar sederhana, tetapi di lapangan, ia menjelma menjadi tas yang dipanggul siswa, meja tempat mereka menulis, dan permainan yang membuat mereka memahami dunia.
Baca Juga : Berkah Lebaran 1447 H, MDA Salurkan Sembako untuk 21 Desa di Luwu
Di desa-desa kaki Latimojong, pendidikan sering kali berjalan dengan sunyi—tanpa sorotan, tanpa kemewahan. Tapi hari itu, di Belopa, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Ada energi baru yang mengalir dari halaman upacara ke ruang-ruang kelas. Mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari hal kecil: sebuah tas, sepasang bangku, atau tawa anak-anak yang kembali menemukan alasan untuk belajar.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
