Merekalah yang akan melaporkan empat indikator utama layanan MBG:
1. Ketepatan waktu distribusi – Apakah makanan tiba sesuai jadwal?
2. Aroma makanan – Apakah masih segar atau sudah berbau busuk?
3. Rasa makanan – Apakah layak konsumsi dan disukai anak?
4. Variasi menu setiap hari – Apakah menu itu-itu saja atau bervariasi?
Contoh Nyata: Menu Telur Terus-Menerus
Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG
Sony memberikan ilustrasi sederhana:
“Guru bisa melaporkan misalnya menu hari ini telur rebus bumbu balado, besok telur bumbu rendang, lalu telur bumbu apalagi. Itu menandakan menu dari SPPG tidak variatif.”
Laporan semacam ini, menurut Sony, akan menjadi bahan evaluasi serius bagi BGN. SPPG yang mendapatkan nilai buruk akan diperbaiki atau diberikan pembinaan.
Baca Juga : Saat Prabowo Bertanya pada Buruh Apakah MBG Bermanfaat
KPI Terbuka untuk Seluruh SPPG
Hasil penilaian publik ini nantinya akan menjadi indikator kinerja utama (KPI) masing-masing SPPG. Semakin transparan data, semakin akuntabel penyelenggaraan MBG.
BGN berharap dengan keterbukaan ini, pengawasan publik bisa berjalan paralel dengan pengawasan internal. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mitra kontrol yang aktif.
Baca Juga : Prabowo: MBG dan Koperasi Desa Jadi Pilar Kebangkitan Ekonomi Rakyat
Motivasi untuk Semua Pihak
Program MBG adalah program strategis nasional untuk mengatasi stunting dan kekurangan gizi pada anak sekolah serta ibu hamil. Dengan adanya dashboard terbuka, setiap laporan warga berarti nyawa dan masa depan anak-anak bangsa.
Untuk para guru dan ustadz: Jangan ragu melaporkan jika ada ketidaksesuaian. Suara Anda adalah instrumen perubahan.
Baca Juga : BGN Tegaskan MBG Bukan Cuma Gizi, Tapi Penyelamat Petani
Untuk SPPG: Tingkatkan kualitas layanan. Data publik tidak bisa bohong.
Untuk masyarakat umum: Pantau dan kawal. Program ini adalah uang rakyat untuk gizi rakyat. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
