Tetapi setiap empat tahun sekali, kita hanya mengganti warna kaus yang kita kenakan.
Hari ini mendukung Brasil.
Baca Juga : Mbappe Tinggalkan Messi, Sepatu Emas Piala Dunia 2026 di Depan Mata
Besok Argentina.
Lusa Spanyol.
Kita berganti-ganti menjadi warga negara sepak bola tanpa pernah menjadi peserta Piala Dunia.
Baca Juga : Inggris Bungkam Prancis 6-4, Raih Posisi 3
Ironisnya, setiap kekalahan negara yang kita dukung terasa seperti kekalahan pribadi. Kita berdebat di media sosial, saling mengejek, bahkan bermusuhan karena negara yang letaknya ribuan kilometer dari tanah air.
Padahal satu fakta tak pernah berubah.
Bendera Merah Putih belum juga berkibar di panggung Piala Dunia.
Baca Juga : Petisi agar Agentina Didkskuakufikasi Diteken 12 juta Netizen
Barangkali masalah kita bukan kekurangan bakat.
Bukan pula kekurangan penggemar.
Yang kurang adalah keseriusan membangun ekosistem. Pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat, tata kelola yang profesional, dan budaya yang menempatkan prestasi di atas kepentingan sesaat.
Baca Juga : Tidak Apa-apa Kalah, yang Penting Ingat Pulang
Kita terlalu sering sibuk mencari kambing hitam setelah kalah, tetapi terlalu sedikit membangun kandang yang baik sebelum bertanding.
Piala Dunia mengajarkan bahwa ukuran negara bukan penentu kejayaan.
Yang menentukan adalah kualitas manusianya, konsistensi pembinaannya, dan keberanian bermimpi besar.
Negara kecil bisa mendunia.
Negara besar bisa terus menjadi penonton.
Pertanyaannya bukan lagi, kapan Indonesia masuk Piala Dunia?
Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
Sampai kapan kita merasa cukup menjadi penonton?
Sebab sebuah bangsa tidak akan pernah tampil di panggung dunia apabila ia lebih senang merayakan kemenangan bangsa lain daripada bekerja keras membangun kemenangan untuk bangsanya sendiri.
Gerhana Alauddin, 20 Juli 2026***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
