HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Politik tidak selalu berbicara melalui undang-undang, pidato, atau kebijakan. Sering kali ia hadir dalam bentuk yang lebih halus “simbol”.
Dan simbol yang paling kuat justru lahir ketika dipentaskan di ruang publik, karena ia tidak hanya dilihat, tetapi juga ditafsirkan.
Baca Juga : Dokter Tifa Ditangkap saat Akan Ujian S3
Momen Presiden ke-7 Joko Widodo mengikuti ritual adat Lampung, termasuk prosesi menginjak kepala kerbau, memperlihatkan bagaimana satu tindakan budaya dapat berubah menjadi peristiwa politik.
Bagi masyarakat adat Lampung, prosesi itu bukan tindakan seremonial. Ia adalah bahasa budaya yang memuat nilai penghormatan, legitimasi, keberanian, dan pengakuan terhadap tatanan adat.
Ketika seorang kepala negara bersedia mengikuti ritus tersebut, ada pesan yang dapat dibaca, negara hadir tanpa merasa lebih tinggi dari tradisi, dan kekuasaan bersedia memasuki ruang budaya dengan menghormati aturan yang hidup di dalamnya.
Baca Juga : Jokowi Hadir di Acara Bloomberg Economy Forum di India
Di titik inilah simbol mulai hidup di luar kehendak pencetusnya.
Seorang pemimpin tidak pernah membawa tubuhnya sendiri ke ruang publik, ia membawa jabatan, sejarah politik, serta seluruh persepsi yang melekat padanya.
Karena itu, setiap gestur selalu mengundang pembacaan yang berlapis. Di tengah iklim politik yang penuh polarisasi, tindakan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai penghormatan terhadap adat, oleh sebagian lain dapat dipandang sebagai komunikasi politik, bahkan pencitraan.
Baca Juga : Hadir di Rakernas PSI di Makassar, Jokowi Dukung Total
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
