Tidak ada yang sepenuhnya keliru, sebab simbol memang tidak mengenal makna tunggal.
Dalam kajian komunikasi politik, tanda-tanda itu bekerja justru karena sifatnya yang terbuka. Ia tidak menjelaskan, melainkan mengundang penafsiran.
Bahkan terdapat konsep “plausible deniability” tindakan simbolik memungkinkan berbagai makna dilekatkan tanpa pernah dinyatakan secara eksplisit, sehingga pelakunya tetap memiliki ruang untuk mengatakan bahwa tafsir itu bukan maksudnya.
Baca Juga : Dokter Tifa Ditangkap saat Akan Ujian S3
Politik memahami bahwa pesan yang paling efektif sering kali bukan yang diucapkan, melainkan yang dibiarkan hidup dalam imajinasi publik.
Di era media sosial, kekuatan isyarat menjadi berlipat ganda. Satu foto mampu mengalahkan seratus halaman pidato. Satu gestur dapat melahirkan ribuan komentar, potongan video, meme, hingga narasi yang terus berkembang tanpa lagi berada dalam kendali pelakunya. Ia bergerak lebih cepat daripada klarifikasi.
Persoalan utama, apakah ritual adat itu benar atau salah. Namun tradisi memiliki ruang kehormatannya sendiri yang patut dihargai. Yang menarik justru adalah bagaimana publik membacanya. Kepala kerbau yang diinjak tidak lagi sekadar bagian dari ritus adat, ia berubah menjadi teks politik.
Baca Juga : Jokowi Hadir di Acara Bloomberg Economy Forum di India
Sebagian membacanya sebagai penghormatan terhadap budaya lokal. Sebagian lain melihatnya sebagai representasi kuasa, keberanian, atau strategi komunikasi politik. Semua tafsir itu lahir dari pengalaman, harapan, dan prasangka masing-masing.
Simbol selalu mengalami nasib yang sama, begitu dilepaskan ke ruang publik, ia berhenti menjadi milik pembuatnya. Maknanya berpindah ke tangan mereka yang menyaksikan. Mungkin itulah pelajaran paling penting dari peristiwa di Lampung.
Dalam demokrasi, yang diperebutkan bukan hanya tindakan, tetapi juga maknanya. Dan sering kali, pertarungan tafsir jauh lebih menentukan daripada peristiwa itu sendiri.
Baca Juga : Hadir di Rakernas PSI di Makassar, Jokowi Dukung Total
Strategi yang dilahirkan bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu membentuk makna di benak publik. **”
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
