Logo Harian.news

Trade Misinvoicing Mengancam, Gibran: Ada Arus Gelap di Balik Ekspor-Impor

Editor : Andi Awal Tjoheng Senin, 13 April 2026 15:03
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. (IG@gibran_rakabuming)
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. (IG@gibran_rakabuming)

Gibran Bongkar Praktik Gelap Dagang RI, Negara Rugi Ratusan Miliar Dolar

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Ada yang tak biasa dalam pidato Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka akhir pekan ini. Bukan soal kebijakan biasa, melainkan pengakuan tentang “gelombang gelap” yang selama ini tersembunyi di balik derasnya arus perdagangan global. Dan yang menjadi korbannya adalah keuangan negara sendiri.**

Baca Juga : Prabowo Salat Id di Aceh Tamiang, Gibran di Istiqlal Jakarta

Di sela pernyataannya yang diunggah kanal YouTube Sekretariat Wakil Presiden, pada Minggu (12/4/2026), Gibran menyebut praktik ini punya nama teknis: trade misinvoicing. Tapi jangan salah, dampaknya tak teknis-teknis amat.

“Di balik arus besar perdagangan global ada gelombang lain yang tidak selalu terlihat di permukaan. Namun bisa menggerus keadilan dan kejujuran ekonomi serta menyebabkan larinya modal dan kekayaan bangsa ke luar negeri,” ujar Gibran dengan nada serius.

Apa Itu Trade Misinvoicing? Manipulasi Dua Arah

Baca Juga : Ketika Wapres Gibran dan Mentan Amran Kompak Dorong Rice Transplanter di Ngawi

Gibran menjelaskan, praktik ini sederhana tapi licik. Pelaku memanipulasi nilai transaksi ekspor-impor lewat dua cara: under invoicing (melaporkan harga lebih rendah dari sebenarnya) dan over invoicing (melaporkan harga lebih tinggi dari sebenarnya).

Selisih dari pencatatan palsu inilah yang kemudian menjadi dana gelap—bergerak lintas negara tanpa tercatat. Hasilnya? Devisa hasil jerih payah bangsa menguap begitu saja.

Negara Rugi Ratusan Miliar Dolar AS

Baca Juga : Wapres Gibran Dorong Anak Muda Kembangkan AI di Indonesia

Jika dihitung, jumlahnya mencengangkan. Berdasarkan data 2014 hingga 2023, nilai under invoicing ekspor Indonesia tembus 401 miliar dolar AS. Itu setara sekitar 40 miliar dolar AS per tahun.

Sementara over invoicing ekspor tercatat 252 miliar dolar AS, atau sekitar 25 miliar dolar AS per tahun. Total potensi kebocoran mencapai 653 miliar dolar AS dalam satu dekade. Jika dirupiahkan (kurs Rp16.000), nilainya lebih dari Rp10.448 triliun.

“Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah uang yang seharusnya bisa membangun pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dan membayar gaji guru,” tegas Gibran.

Baca Juga : Gibran: Kolaborasi Daerah Penting untuk Kemajuan RI

Sektor Paling Rawan: Limbah sampai Smartphone

Lalu, barang apa saja yang paling sering dimanipulasi? Gibran membeberkan sektor-sektor ini paling rawan:

  • Perdagangan limbah
  • Logam berlapis
  • Logam mulia (emas, perak, platinum)
  • Produk elektronik seperti smartphone

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda