HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dipaparkan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
“Indeks literasi dan inklusi keuangan wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah perdesaan. Di wilayah perkotaan, indeks literasi mencapai 71,00 persen dan inklusi 94,48 persen, sedangkan di wilayah perdesaan masing-masing tercatat 59,87 persen dan 90,03 persen,” jelasnya, Selasa (06/05/2025).
Baca Juga : Rebalancing MSCI Picu Tekanan Jangka Pendek, OJK Tetap Optimistis
Dalam hal gender, data menunjukkan bahwa literasi keuangan laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan, dengan angka masing-masing 67,53 persen dan 65,73 persen. Meskipun demikian, tingkat inklusi keuangan antara laki-laki dan perempuan hampir sebanding, yaitu 92,58 persen untuk laki-laki dan 92,89 persen untuk perempuan.
Berdasarkan kelompok umur, kelompok usia 26-35 tahun, 18-25 tahun, dan 36-50 tahun memiliki tingkat literasi keuangan tertinggi, masing-masing sebesar 74,05 persen, 73,26 persen, dan 72,12 persen. Sebaliknya, kelompok umur 15-17 tahun dan 51-79 tahun memiliki tingkat literasi keuangan terendah, yaitu 51,86 persen dan 55,03 persen.
Untuk tingkat inklusi keuangan, kelompok umur 18-25 tahun, 36-50 tahun, dan 26-35 tahun mencatatkan angka tertinggi, masing-masing sebesar 95,07 persen, 94,11 persen, dan 93,52 persen. Kelompok umur 51-79 tahun dan 15-17 tahun memiliki inklusi keuangan terendah, yaitu 89,70 persen dan 91,32 persen.
Baca Juga : Pascarebalancing MSCI, OJK Fokus Tingkatkan Daya Saing Pasar Modal
Data juga menunjukkan adanya pengaruh besar dari tingkat pendidikan terhadap literasi dan inklusi keuangan. Mereka yang tamat perguruan tinggi mencatatkan tingkat literasi keuangan tertinggi, yaitu 90,63 persen, diikuti oleh tamat SMA/sederajat (79,19 persen) dan tamat SMP/sederajat (64,37 persen).
Sementara itu, mereka yang tidak/belum pernah sekolah atau tidak tamat SD/sederajat mencatatkan indeks literasi keuangan terendah, masing-masing 43,77 persen dan 54,62 persen. Tingkat inklusi keuangan juga sejalan dengan tingkat pendidikan, di mana mereka yang tamat perguruan tinggi memiliki inklusi keuangan tertinggi, yakni 99,77 persen, disusul dengan tamat SMA/sederajat (97,23 persen) dan tamat SMP/sederajat (92,74 persen).
Dari sisi pekerjaan, kelompok pegawai/profesional, pensiunan/purnawirawan, dan pengusaha/wiraswasta memiliki tingkat literasi keuangan yang sangat baik. Indeks literasi keuangan untuk ketiganya masing-masing sebesar 85,80 persen, 74,11 persen, dan 73,96 persen.
Baca Juga : OJK Perkuat Ketahanan Siber Industri Keuangan Digital
Sebaliknya, kelompok tidak/belum bekerja, petani/peternak/pekebun/nelayan, dan pekerjaan lainnya tercatat memiliki indeks literasi keuangan terendah, yakni 49,46 persen, 59,32 persen, dan 60,31 persen.
Dalam hal inklusi keuangan, pensiunan/purnawirawan, pegawai/profesional, dan pengusaha/wiraswasta memiliki indeks inklusi keuangan tertinggi, yaitu 100,00 persen, 98,15 persen, dan 95,21 persen, sedangkan kelompok tidak/belum bekerja, petani, dan pekerja lainnya memiliki inklusi keuangan terendah.
Hasil survei ini menggambarkan bahwa literasi dan inklusi keuangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, termasuk lokasi tempat tinggal, gender, usia, pendidikan, dan pekerjaan.
Baca Juga : OJK Bangun Industri Pindar Berintegritas Pasca Putusan KPPU
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
