HARIAN.NEWS, JAKARTA – Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus dan dapat menyebabkan penyakit serius hingga mematikan pada manusia. Meski tergolong langka secara global, infeksi ini dapat memicu gangguan pernapasan dan gagal ginjal yang berbahaya.
Menurut data otoritas kesehatan Amerika Serikat, negara tersebut mulai melacak kasus hantavirus sejak 1993. Hingga 2023, tercatat sebanyak 890 kasus ditemukan di berbagai wilayah, dengan jumlah tertinggi berada di negara bagian Washington, California, Arizona, Colorado, dan New Mexico.
Dilansir dari laman Live Science, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan terdapat antara 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi hantavirus setiap tahun di seluruh dunia, dengan beban kasus terbesar terjadi di Asia dan Eropa.
“Di seluruh dunia, diperkirakan antara 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi terjadi setiap tahunnya, dengan beban kasus terbesar berada di Asia dan Eropa,” kata World Health Organization (WHO) dikutip Live Science.
Cara Penularan Hantavirus
Manusia dapat tertular hantavirus setelah terpapar urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menyentuh material yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Virus juga dapat menyebar melalui udara saat debu yang mengandung kotoran tikus beterbangan, misalnya ketika membersihkan gudang atau lumbung.
Dalam kasus yang jarang terjadi, penularan dapat terjadi akibat gigitan tikus yang terinfeksi.
Jenis Andes virus menjadi perhatian khusus karena merupakan satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia. Virus ini dikaitkan dengan sejumlah klaster infeksi, termasuk kasus pada kapal pesiar MV Hondius pada tahun 2026.
Gejala Hantavirus
Hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama: Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS); Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Adapun gejala awal HCPS meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, menggigil, gangguan pencernaan. Gejala biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan virus.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
