Logo Harian.news

BPOM Sumbang Potensi Ekonomi Rp10.000 Triliun dari Sektor Kesehatan, konsep ABG Taruna Ikrar Jadi Penggeraknya

Editor : Redaksi Sabtu, 14 Februari 2026 12:34
BPOM Sumbang Potensi Ekonomi Rp10.000 Triliun dari Sektor Kesehatan, konsep ABG Taruna Ikrar Jadi Penggeraknya

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa konsep kolaborasi Academia–Business–Government (ABG) merupakan peta strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing global di tengah dinamika perubahan dunia yang semakin kompleks.

Paparan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang digagas Ikatan Alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (IAPPI) di Auditorium BJ. Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia.

Taruna menjelaskan, berbagai indikator internasional menunjukkan posisi Indonesia masih berada pada level moderat dan membutuhkan lompatan transformasi yang sistematis.

Baca Juga : Prabowo Minta Pastikan MBG Aman: 1.179 Dapur Gizi Polri Resmi Beroperasi, Taruna Ikrar: BPOM Dukung Full

Pada World Competitiveness Index (IMD), daya saing nasional dipengaruhi oleh kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, serta infrastruktur.

Sementara pada Global Health Security (GHS) Index, yang mengukur kesiapsiagaan 195 negara menghadapi pandemi, Indonesia masih berada pada kategori menengah meskipun pernah dipercaya menjadi tuan rumah Global Health Security Agenda ke-5 sebagai bagian dari peran aktif dalam dialog kesehatan global.

Di sektor ketahanan pangan, Global Food Security Index (GFSI) menargetkan peningkatan dari 76,20 pada 2024 menjadi 80,72 pada 2029. Namun tantangan global seperti Society 5.0, digitalisasi, perubahan iklim, kemajuan teknologi komunikasi, serta potensi silent pandemic menuntut pendekatan lintas sektor yang lebih terintegrasi.

Baca Juga : Taruna Ikrar: Menjemput Lailatul Qadar 1000 Bulan, BPOM Hadirkan Ustadz Maulana dan Berbagi ke 300 Pekerja Senyap

Menurut Taruna Ikrar, seluruh tantangan tersebut saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya solusi global melalui riset yang relevan, inovasi yang terhilirisasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Karena itu BPOM siap bersinergi dengan kampus dan dunia usaha agar inovasi tidak berhenti pada publikasi, tetapi menjadi produk nyata yang memberi manfaat kesehatan dan ekonomi.

Taruna juga menyoroti Global Innovation Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-55 dari 139 negara. Dengan jumlah perguruan tinggi mencapai 4.416, Indonesia dinilai memiliki potensi inovasi sangat besar, namun memerlukan percepatan penguatan ekosistem riset berdampak tinggi, hilirisasi industri, serta kolaborasi internasional.

Baca Juga : Apa Itu Nutri-Grade? Sistem Label Baru pada Kemasan Mulai 2026

Alumni kedokteran unhas ini menekankan bahwa konsep ABG bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan model ekosistem nasional. Akademisi melahirkan ilmu dan teknologi, industri mengubahnya menjadi nilai ekonomi, sementara pemerintah memastikan regulasi dan perlindungan publik berjalan seimbang.

“Negara maju bukan hanya yang kaya sumber daya, tetapi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi produk, dan produk menjadi kekuatan ekonomi. ABG adalah jembatan transformasi itu,” ujarnya.

Dalam konteks internasional, BPOM juga terus membangun reputasi sebagai otoritas regulatori obat yang kredibel.

Baca Juga : Prof Taruna Ikrar Ungkap Tantangan Kampus Indonesia di Era AI dan Silent Pandemic

BPOM telah menjadi National Regulatory Authority (NRA) pertama dari negara berkembang yang masuk dalam WHO Listed Authority (WLA). Pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia tersebut bukan sekadar simbol, tetapi validasi internasional atas kapasitas, tata kelola, dan kredibilitas sistem regulasi obat Indonesia.

Status WLA membuat keputusan regulatori BPOM dapat menjadi rujukan bagi negara lain. Dengan posisi sebagai reference National Regulatory Authority, proses registrasi dan penerimaan produk Indonesia di pasar global menjadi lebih cepat dan lebih dipercaya.

Dampak lanjutannya adalah penguatan ekonomi nasional karena industri farmasi dan produk kesehatan dalam negeri memperoleh akses pasar yang lebih luas dan kompetitif.

Selain meningkatkan ekspor, capaian ini juga memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia di forum internasional. Bagi perguruan tinggi dan dunia riset, pengakuan tersebut membuka peluang besar hilirisasi inovasi obat dan produk kesehatan karena didukung sistem regulasi yang telah diakui dunia.

Taruna Ikrar menyebut WLA sebagai game changer yang menghubungkan riset, industri, regulasi, dan daya saing global Indonesia.Lebih lanjut ia menegaskan kontribusi sektor obat dan makanan terhadap perekonomian nasional sangat besar. Aktivitas industri besar dan UMKM di bawah pengawasan BPOM diperkirakan bernilai sekitar Rp10.000 triliun (sekitar US$594 miliar). Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan pengawasan dari hulu hingga hilir, BPOM memegang peran strategis dalam menjaga kepercayaan pasar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Saat ini terdapat 45.216 industri skala besar dan sekitar 4,2 juta UMKM berada dalam lingkup pengawasan BPOM. Rinciannya meliputi 272 industri obat dan 3.217 pedagang besar farmasi; 239 industri obat bahan alam dan 1.207 usaha obat bahan alam; 208 industri suplemen kesehatan; 143 industri kosmetik dan 1.183 UMKM kosmetik; 11.137 industri pangan olahan, 10.111 UMKM pangan olahan, 196.849 industri rumah tangga pangan, serta sekitar 30.000 ritel makanan modern.

Sepanjang 2025, BPOM menerbitkan sedikitnya 424.301 sertifikat yang mencakup izin edar produk, sertifikat sarana produksi dan distribusi, serta surat keterangan ekspor dan impor. Hal ini menunjukkan peran pengawasan sekaligus fasilitasi BPOM dalam menjaga keamanan produk sekaligus mempercepat aktivitas ekonomi.Melalui pendekatan ABG dan dukungan sistem regulasi berstandar internasional, BPOM menempatkan pengawasan tidak hanya sebagai fungsi kontrol, tetapi juga akselerator inovasi nasional. Regulasi diposisikan sebagai enabler agar riset, industri kesehatan, pangan, dan obat tradisional Indonesia mampu menembus pasar global secara aman dan terpercaya.Ia menambahkan, masa depan daya saing Indonesia tidak ditentukan oleh satu sektor saja, melainkan oleh kemampuan menyatukan sains, industri, dan kebijakan publik dalam satu arah pembangunan.

“Konsep ABG diharapkan menjadi fondasi menuju Indonesia berdaya saing global sekaligus berdaulat di bidang kesehatan dan pangan,” papar Taruna.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda