HARIAN.NEWS, JAKARTA – Keberhasilan pembangunan daerah di Indonesia selama ini tampaknya terlalu sering dilihat dari angka-angka pertumbuhan ekonomi, padahal seharusnya konsisten dalam menghadirkan kehidupan yang sehat, berpendidikan, dan aman.
Hal ini menegaskan bahwa daerah berkualitas terbaik bukan yang sekadar paling kaya secara ekonomi, melainkan yang paling mampu mewujudkan kesejahteraan sosial secara merata dan berkelanjutan.
“Kualitas hidup tinggi adalah hasil dari kebijakan yang konsisten, bukan kebetulan,” ungkap Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, di Jakarta, Minggu (1/2/2026) dalam siaran pers yang diterima.
Baca Juga : Taruna Ikrar: BPOM Kawal Sains dan Regulasi, Fondasi Ekosistem Vaksin Indonesia yang Tangguh Untuk Dunia
Untuk menemukan daerah dengan kualitas hidup terbaik, ungkap Ade Holis, NEXT Indonesia Center menguji data 514 kabupaten/kota, melalui delapan indikator yang membentuk Indeks Sosial.
Delapan indikator tersebut mencakup persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka (TPT), dependency ratio, serta rasio belanja makanan terhadap total pengeluaran. Selain itu, indeks ini mengintegrasikan variabel umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS), dan pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan.
Dari hasil analisis, rata-rata Indeks Sosial Indonesia secara nasional pada tahun 2024 berada di level 64,66, sebuah angka yang menjadi batas garis bagi daerah untuk dikategorikan memiliki kualitas hidup di atas atau di bawah standar nasional.
Baca Juga : Nyepi dan Ramadan Sumber Inspirasi
“Agar adil, penilaian dilakukan berdasarkan pengelompokan wilayah, yakni terbaik di Sumatra, Jawa dan Bali, Nusa Tenggara dan Maluku, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua,” ujar Ade Holis.
Hasil analisis NEXT Indonesia Center menunjukkan, sejumlah kota besar berhasil tampil menonjol sebagai daerah dengan kualitas hidup terbaik, yakni Denpasar, Banda Aceh, Kupang, Kendari, Samarinda, hingga Jayapura. Mereka adalah daerah-daerah terbaik dengan Indeks Sosial tertinggi di masing-masing wilayahnya.
Kota Denpasar menempati posisi puncak nasional dengan skor Indeks Sosial tertinggi mencapai 94,80 pada tahun 2024. Ibu kota Provinsi Bali ini menunjukkan profil sosial-ekonomi yang sangat solid, ditandai oleh tingkat kemiskinan rendah sebesar 2,59% serta tingkat pengangguran terbuka yang hanya 2,11%.
Baca Juga : Gempa Magnitudo 4,4 Guncang Bali hingga Lombok
“Struktur konsumsi di Denpasar menjadi indikator kemajuan yang nyata. Rasio belanja makanan yang rendah di Denpasar, yakni 42,24%, menunjukkan bahwa mayoritas rumah tangga telah melewati fase pemenuhan kebutuhan dasar sehingga kualitas hidup meningkat secara substantif,” ungkap Ade.
Selanjutnya ada Kota Banda Aceh yang memimpin klaster Sumatra dengan Indeks Sosial 87,10. Keunggulan Banda Aceh terutama ditopang oleh indikator pendidikan dan kesehatan yang sangat kuat. Menurut Ade, Banda Aceh membuktikan bahwa kualitas hidup bisa unggul meski bukan wilayah industri besar.
“Harapan lama sekolah masyarakat Banda Aceh mencapai 17,94 tahun, rata-rata lama sekolah 13,10 tahun, serta umur harapan hidup 75,25 tahun, yang seluruhnya berada di atas rata-rata Indonesia. Capaian ini mencerminkan keberhasilan akumulasi modal manusia dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Baca Juga : Dispar Makassar Incar Wisatawan Luar Negeri di Bali
Di wilayah Sulawesi, Kota Kendari menjadi yang terbaik dengan skor 85,27. Sama seperti Banda Aceh, Kendari mengandalkan modal manusia dengan angka harapan lama sekolah mencapai 16,92 tahun dan umur harapan hidup 75,47 tahun.
Kejutan muncul dari kawasan timur Indonesia, Kota Kupang mencatatkan Indeks Sosial sebesar 85,53. Di tengah tantangan ekonomi kawasan, Kupang mampu menunjukkan performa pendidikan yang jauh melampaui rata-rata kawasannya, dengan rata-rata lama sekolah 11,64 tahun dibanding rerata regional 8,58 tahun.
“Capaian Kupang sebagai bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang martabat hidup. Kupang menunjukkan bahwa akses luas terhadap pendidikan mampu mendorong kualitas hidup sosial ke level yang jauh lebih tinggi,” ujar Ade.
Di Kalimantan, Kota Samarinda memiliki nilai Indeks Sosial 84,43. Capaian ini ditopang oleh tingkat kemiskinan yang rendah sebesar 4,30%. Di sisi lain, Ibu Kota Kalimantan Timur ini menorehkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di sepanjang 2024, angkanya tercatat 8,66%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Timur yang mencapai 6,17%.
Sementara itu, Kota Jayapura tetap menjadi pusat kualitas hidup di Papua dengan skor 80,85. Jayapura berfungsi sebagai magnet kemajuan dengan angka rata-rata lama sekolah 12,07 tahun, yang menjadi pembeda signifikan bagi kualitas hidup di wilayah timur.
Kendati demikian, meski 247 kabupaten/kota di Indonesia memiliki Indeks Sosial di atas rata-rata nasional, tapi tantangan besar masih membayangi akibat jurang ketimpangan antardaerah.
Tercatat masih ada 267 kabupaten/kota dengan Indeks Sosial di bawah rata-rata nasional, menandakan kemajuan kualitas hidup masih terkonsentrasi di pusat-pusat layanan regional tertentu saja.
“Pembangunan inklusif sangat penting, setiap daerah harus mampu memastikan warganya menjalani hidup bermartabat tanpa terjebak kerentanan ekonomi akut, sehingga ketahanan sosial nasional terbentuk secara lebih merata,” tutup Ade Holis.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
