HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar terus mendorong seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk bekerja optimal sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi), sekaligus menghadirkan program nyata yang langsung dirasakan masyarakat.
Salah satu fokus yang kini diperkuat adalah pembangunan berbasis lingkungan berkelanjutan, dengan mengintegrasikan ketahanan pangan dan pengelolaan sampah di tingkat wilayah.
Dalam upaya tersebut, Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2) Kota Makassar didorong sebagai leading sector untuk mengakselerasi program strategis berbasis urban farming di setiap kelurahan.
Baca Juga : Pemkot Makassar Tebar Berkah Iduladha, 9 Ekor Sapi Kurban Disalurkan ke Masyarakat
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau akrab disapa Appi menegaskan pentingnya optimalisasi program urban farming dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan.
“Kita perlu maksimalkan program urban farming di semua wilayah. Keterlibatan aktif kelompok masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan, sangat penting dalam pembangunan di tingkat lorong,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Appi menjelaskan, program urban farming tidak hanya mendorong pemanfaatan lahan sempit menjadi produktif, tetapi juga dirancang terintegrasi dengan sistem pengelolaan sampah rumah tangga.
Baca Juga : APPI Mamajang, Polsek dan Perumda Pasar Hadirkan Pasar Murah untuk Ringankan Beban Warga
Melalui pendekatan ini, sampah organik diolah menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertanian perkotaan. Konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan pangan skala rumah tangga sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.
“Urban farming diharapkan menjadi solusi ganda, mengurangi volume sampah sekaligus memperkuat kemandirian pangan warga di tengah dinamika perkotaan,” imbuhnya.
Menurutnya, kemandirian pangan berbasis masyarakat dapat dimulai dari pemanfaatan lahan terbatas dengan pengetahuan dan ketelatenan. Ia juga menyebut program urban farming yang telah berjalan di Makassar menunjukkan hasil yang cukup positif, dengan sejumlah wilayah mulai membentuk ekosistem pemenuhan gizi dan ekonomi lokal.
Baca Juga : Terminal Mallengkeri Siap Tampung Pedagang Pasar Kalimbu, Relokasi Tanpa Biaya Awal
Lebih lanjut, Pemkot Makassar mendorong setiap kelompok masyarakat untuk membina minimal dua lorong, bekerja sama dengan lurah serta RT/RW setempat guna menciptakan lingkungan yang produktif dan tertata.
Selain pertanian, konsep ini juga membuka peluang pengembangan peternakan skala kecil di kawasan perkotaan. Munafri mencontohkan budidaya ayam petelur yang dapat dijalankan di lahan terbatas dengan sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
“Sekarang beternak ayam tidak butuh lahan luas. Dengan sistem yang baik, tetap bisa produktif dan tidak menimbulkan bau,” jelasnya.
Baca Juga : Camat Tamalanrea Andi Patiroi: Warga Bersabar Tunggu Kejelasan Pembangunan PSEL
Untuk mendukung program tersebut, DP2 diminta berkoordinasi dengan Dewan Lingkungan agar kelompok masyarakat mendapatkan pendampingan serta fasilitas yang memadai.
Kemitraan dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) juga didorong untuk memperkuat pembiayaan dan pengembangan program.
Di sisi lain, Pemkot Makassar menargetkan peningkatan pengelolaan sampah hingga minimal 95 persen. Saat ini, capaian tersebut dinilai masih belum optimal dan bahkan belum menyentuh angka 70 persen secara maksimal.
“Biaya yang kita keluarkan harus sebanding dengan hasil. Target kita, minimal 95 persen sampah harus terkelola,” tegasnya.
Munafri juga menginstruksikan camat dan lurah agar lebih aktif turun langsung ke lapangan, memantau kondisi wilayah, serta memperkuat kegiatan bersama masyarakat, tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga kebersihan dan pemberdayaan lingkungan.
“Sering-sering turun ke wilayah, lihat langsung, dan bangun kegiatan bersama masyarakat. Itu yang akan menghadirkan perubahan nyata,” pungkasnya.
(ASW)
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
