HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penghentian sementara tarif selama 90 hari bagi sebagian besar negara. Kecuali Tiongkok, yang tarifnya dinaikkan menjadi 125 persen. Meski begitu Indonesia tetap berdampak.
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menepis kekhawatiran publik terhadap kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat. Ia memastikan bahwa Indonesia memiliki strategi matang untuk mengantisipasi dampaknya, terutama di sektor pertanian dan energi berbasis biofuel.
Baca Juga : Kementan Genjot Hilirisasi 7 Komoditas, Anggaran Rp9,5 T
“Kita tidak perlu khawatir. Kalau ekspor ke Amerika terganggu, kita alihkan ke dalam negeri. Biofuel kita siap menampung itu,” ujar Amran saat menghadiri Mubes XII KKSS dan PSBM XXV di Makassar, Kamis (10/4/2025).
Amran menyoroti potensi pemanfaatan minyak sawit mentah (CPO) untuk kebutuhan biofuel dalam negeri sebagai langkah strategis. Jika ekspor ke Amerika tersendat, Indonesia dapat menggenjot produksi B40 dan B50, yakni bahan bakar campuran solar dengan 40–50 persen biodiesel.
“Amerika bisa kita kurangi, dalam negeri bisa kita genjot. Kita butuh 5,3 juta ton untuk B40 dan B50. Sementara ekspor kita 26 juta ton. Artinya, kita sangat siap,” tegasnya.
Baca Juga : Kementan Lepas Ekspor 545 Ton Produk Unggas ke Tiga Negara, Nilai Tembus Rp18,2 Miliar
Indonesia, menurut Amran, bukan pemain kecil dalam perdagangan global. Ia menekankan bahwa hubungan dagang Indonesia-Amerika berjalan dua arah. AS membutuhkan CPO, sementara Indonesia mengimpor gandum yang tak bisa ditanam di dalam negeri.
“Ini tentang keseimbangan. Kita ambil gandum 10 juta ton dari Amerika, dan mereka butuh CPO kita. Kalau satu pasar terganggu, kita buka pasar baru. Tidak masalah,” katanya.
Amran juga menekankan bahwa sektor pertanian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan luar biasa meskipun dunia tengah mengalami ketidakpastian. Sejumlah komoditas bahkan mencatatkan kenaikan nilai jual.
Baca Juga : Saat Prabowo Siap ke Teheran Fasilitasi Dialog
“Selama pangan aman, negara aman. Sekarang pangan kita aman. Kita bisa berdiri kuat meski dunia gonjang-ganjing,” tegas Mantan Menteri Pertanian di era Jokowi tersebut.
Pernyataan Amran mencerminkan kepercayaan diri pemerintah menghadapi tekanan global. Dengan sumber daya besar, pasar domestik yang kuat, dan fleksibilitas strategi, Indonesia disebut mampu mengubah tantangan menjadi peluang.
“Perdagangan internasional itu dinamis. Kalau satu pintu tertutup, kita buka pintu lain. Itu biasa,” pungkasnya.
Baca Juga : Indonesia Impor Ratusan Ribu Ayam dari Amerika Serikat
PENULIS: NURSINTA
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
