Logo Harian.news

IFG, Jaring Harapan Bagi Nelayan Pesisir

Editor : Redaksi Minggu, 05 Oktober 2025 22:00
Almin Asbah saat memperlihatkan aktivitasnya melaut bersama para nelayan di Desa Turungan Beru, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba. (Foto: dok. Harian.news)
Almin Asbah saat memperlihatkan aktivitasnya melaut bersama para nelayan di Desa Turungan Beru, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba. (Foto: dok. Harian.news)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Hidup di pesisir Desa Turungan Beru, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan tidaklah mudah. Ombak besar, cuaca yang kerap berubah, hingga risiko di laut menjadi sahabat sehari-hari bagi para nelayan.

Di tengah kerasnya hidup di laut, seorang nelayan bernama Almin Asbah (50) masih setia melaut sejak tahun 1990. Namun, hingga kini ia belum pernah tersentuh layanan asuransi.

Almin mengaku sudah lebih dari tiga dekade menghidupi keluarganya hanya dengan perahu kayu sederhana. Ia berangkat pagi buta, pulang menjelang sore, dengan hasil tangkapan yang kadang cukup untuk makan, kadang justru tidak seberapa.

Baca Juga : Jurnalis Harian.News Raih Juara Nasional di IFG Journalists Writing Competition 2025

“Kalau hasil laut sedikit, ya pasrah saja. Kadang cuma cukup untuk beli beras,” ucapnya saat dikonfirmasi harian.news, Minggu (05/10/2025).

Meski sudah puluhan tahun mengarungi laut, Almin mengaku tidak pernah mendapatkan perlindungan dari risiko kerja. Tidak ada jaminan ketika ia sakit, perahunya rusak, atau bahkan ketika ombak besar mengancam nyawanya.

“Saya tidak tahu soal asuransi. Tidak ada yang pernah datang mengajari kami di sini,” ujarnya.

Baca Juga : Wali Kota Makassar Launching Woodland Residence di Antang

Bagi Almin, pekerjaan sebagai nelayan penuh dengan ketidakpastian. Angin kencang bisa tiba-tiba datang, badai bisa muncul tanpa tanda, dan hasil tangkapan pun sering tidak menentu. Dalam kondisi seperti ini, ia merasa keberadaan asuransi akan sangat membantu, meski dirinya belum memahami betul bagaimana cara kerja asuransi.

Sayangnya, keterbatasan informasi dan minimnya edukasi membuat Almin serta nelayan lain di Turungan Beru belum tersentuh program perlindungan nelayan. Padahal, pemerintah sudah lama menggulirkan berbagai program asuransi untuk nelayan, tetapi akses informasi di daerah pesisir terpencil masih sangat terbatas.

“Kalau ada perusahaan atau pihak asuransi mau datang ke desa ini seperti IFG (usai harian.news membeberkan soal IFG), mengajari kami, tentu itu sangat membantu. Supaya kami juga bisa merasa aman kalau ada apa-apa di laut,” harapnya. Almin sadar, risiko terbesar yang ia hadapi bukan hanya soal hasil tangkapan, tetapi juga keselamatan jiwa.

Baca Juga : One Global Capital Buka Gerbang Investasi Properti Asia-Pasifik bagi Investor Indonesia

Kini, di usianya yang sudah tidak muda lagi, Almin hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah maupun perusahaan asuransi seperti IFG sebagai jaring harapan untuk para nelayan kecil. Mereka setiap hari menghadapi ganasnya lautan, namun masih hidup dengan ketidakpastian tanpa perlindungan.

IFG dan Pelindungan untuk Masyarakat Pesisir

Indonesia Financial Group (IFG) terus memperkuat strategi literasi dan inklusi asuransi di Indonesia melalui tiga pilar utama, yakni edukasi, inovasi produk, dan kolaborasi. Langkah ini ditempuh untuk menjawab tantangan rendahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perlindungan asuransi, khususnya di kalangan keluarga muda, UMKM, generasi muda, serta masyarakat pesisir dan pelosok.

Baca Juga : Zhenshi Investasi Rp164 M untuk Perbaikan Jalan dan Bandara Morowali

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji menyampaikan, literasi asuransi menjadi fondasi penting untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap industri ini. Karena itu, IFG dan anggota holding hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan pemahaman praktis.

“Kami tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga simulasi sederhana, misalnya bagaimana asuransi bisa melindungi warung UMKM dari musibah, atau bagaimana asuransi jiwa melindungi masa depan keluarga,” jelasnya.

Selain edukasi, IFG mendorong inovasi produk agar lebih mudah diakses dan terjangkau. Salah satu contoh adalah LifeSAVER dari IFG Life yang menawarkan perlindungan kecelakaan dengan premi mulai Rp25.000 per bulan. Produk ini mencakup berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, klinik, dan apotek.

Adapun Jasa Raharja Putera menghadirkan produk Third Party Liability (TPL) yang memberikan perlindungan bagi pengemudi atau pemilik kendaraan jika terjadi kecelakaan yang menyebabkan kerugian harta benda maupun cedera pada pihak ketiga. Dengan TPL, tertanggung terbebas dari beban finansial berlebih dan mendapat kepastian klaim.

Pada pilar ketiga, IFG menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari regulator, universitas, hingga komunitas lokal, kolaborasi ini dilakukan untuk memperluas jangkauan literasi dan menghadirkan produk inklusif sesuai kebutuhan masyarakat, misalnya asuransi mikro bagi UMKM dengan premi terjangkau melalui Askrindo.

Transformasi digital juga menjadi strategi IFG untuk mendekatkan produk asuransi kepada masyarakat. Melalui aplikasi One by IFG, publik dapat mengakses berbagai layanan asuransi, investasi, hingga konsultasi kesehatan secara daring. Akses digital ini diharapkan mampu menghapus hambatan geografis dan memperluas jangkauan perlindungan.

Tak hanya menghadirkan produk, IFG juga melakukan riset melalui lembaga IFG Progress yang berfungsi sebagai pusat kajian dan rekomendasi kebijakan publik di sektor asuransi, penjaminan, dan investasi. Hasil riset ini menjadi dasar untuk mengevaluasi tingkat literasi sekaligus merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran.

Denny mengatakan dengan strategi holistik ini, IFG menegaskan komitmennya menjadikan asuransi sebagai bagian dari “gaya hidup aman”. IFG hadir memberikan uluran tangan bagi masyarakat yang selama ini masih minim informasi asuransi, terutama di wilayah pesisir dan pelosok.

“Asuransi bukan hanya produk finansial, tetapi kebutuhan dasar untuk memastikan perlindungan dan keberlanjutan hidup semua lapisan masyarakat,” pungkasnya.

IFG Gandeng Pemerintah, BUMN, dan Swasta

Agar lebih maksimal, IFG menegaskan bahwa kolaborasi menjadi strategi utama dalam memperluas jangkauan asuransi dan meningkatkan inklusi keuangan. IFG meyakini bahwa literasi dan penetrasi asuransi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, mulai pemerintah daerah, BUMN, hingga sektor swasta.

Salah satu bentuk nyata kolaborasi adalah kerja sama IFG melalui Jasindo dengan pemerintah daerah dan Kementerian Pertanian dalam menjalankan program Asuransi Nelayan dan Asuransi Petani. Dalam program ini, pemerintah daerah membantu proses identifikasi serta pendataan, sementara IFG menyediakan produk dan teknologi asuransinya.

“Model gotong royong ini terbukti efektif untuk menjangkau masyarakat yang selama ini belum tersentuh asuransi,” jelas Denny.

Kolaborasi juga terjalin dengan sejumlah BUMN, khususnya di sektor perbankan. Melalui skema bancassurance, IFG bermitra dengan Bank Mandiri, Bank BTN, dan Bank Sulselbar. Nasabah KPR, misalnya, bisa mendapatkan proteksi asuransi jiwa dengan proses yang terintegrasi langsung dalam layanan perbankan.

Selain itu, IFG menggandeng pihak swasta dan perusahaan fintech untuk memperluas jangkauan asuransi mikro. Melalui integrasi dalam aplikasi pembayaran digital, produk-produk asuransi mikro dapat ditanamkan sehingga menjangkau jutaan pengguna aktif yang sudah ada.

Pendekatan ini, menurut IFG, menjadikan perusahaan berperan sebagai “orchestrator” yang menyatukan berbagai pemain di ekosistem keuangan. Dengan begitu, tercipta harmoni kolaborasi yang mampu mempercepat peningkatan literasi sekaligus memastikan masyarakat luas bisa mengakses perlindungan asuransi dengan mudah.

“Kolaborasi adalah DNA kami. Kami ingin membangun inklusi yang berkelanjutan dengan menghadirkan asuransi yang benar-benar dekat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Denny.

Jembatan Penghubung dan Proteksi Masa Depan

IFG menjadikan teknologi sebagai ‘jembatan penghubung’ sekaligus proteksi masa depan dalam memperluas jangkauan asuransi ke seluruh lapisan masyarakat. Melalui pendekatan digital, IFG berupaya mengatasi hambatan informasi, geografis, maupun biaya yang selama ini menjadi kendala utama akses layanan asuransi. IFG hadir memberikan kemudahan akses proteksi diri di era digital

Salah satu wujud nyata strategi ini adalah peluncuran aplikasi One by IFG, yang dikembangkan sebagai super app keuangan inklusif. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat, mulai dari nelayan di pesisir hingga pekerja lepas di perkotaan, untuk mengakses produk asuransi dengan lebih mudah.

“Melalui aplikasi One by IFG, nelayan dapat mengajukan asuransi jiwa untuk melindungi keluarganya, sementara pekerja lepas bisa mendapatkan perlindungan asuransi kecelakaan dengan premi yang terjangkau,” terang Denny.

Aplikasi tersebut menghadirkan sejumlah fitur unggulan, seperti klaim digital yang hanya membutuhkan unggahan foto dokumen, hingga layanan telemedicine hasil kerja sama dengan penyedia kesehatan. Kehadiran fitur ini membuat asuransi lebih sederhana, fleksibel, dan personal bagi segmen masyarakat yang sebelumnya sulit dijangkau.

Menurut Denny, digitalisasi bukan sekadar mempermudah layanan, tetapi juga menciptakan pengalaman yang manusiawi. Di hari Asuransi Nasional yang jatuh pada 18 Oktober 2025, Denny berharap, seluruh layanan yang dihadirkan IFG mampu menjembatani kesenjangan literasi dan inklusi asuransi, sehingga masyarakat dapat merasa lebih dekat dengan produk perlindungan finansial.

Upaya ini sejalan dengan target peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK, indeks literasi keuangan perasuransian pada 2025 mencapai 45,45%, naik signifikan dari 36,90%. Sementara inklusi perasuransian tercatat 28,5%, meningkat dari 12,21% di tahun sebelumnya.

Sebagai holding BUMN di sektor asuransi, IFG menegaskan perannya dalam kontribusi tersebut sejak berdiri pada 2020. Inovasi digital menjadi salah satu instrumen utama yang diyakini mampu mempercepat pencapaian target inklusi keuangan sekaligus memberikan perlindungan yang merata bagi masyarakat Indonesia.

Literasi Asuransi Masyarakat Pesisir

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, khususnya pada sektor keuangan non-bank seperti perasuransian. Hal ini menjadi bagian dari Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II (2021–2025) yang tengah dijalankan OJK.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengatakan salah satu fokus utama roadmap tersebut adalah memperluas pemahaman masyarakat terhadap produk asuransi. Menurutnya, OJK akan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah maupun lembaga jasa keuangan terkait untuk menanamkan pentingnya pengelolaan risiko yang efektif dan berkelanjutan.

“Harapan kami pada 2025 nanti, tingkat literasi dan inklusi keuangan khususnya di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) dapat meningkat signifikan. Asuransi harus dipandang sebagai kebutuhan yang melindungi masa depan, bukan sekadar produk investasi atau jaminan kredit,” jelas Muchlasin.

Ia menambahkan, produk asuransi selama ini masih identik dengan penjaminan atas nilai barang, layanan, atau pembiayaan. Pola pikir ini, menurutnya, menjadi tantangan terbesar yang harus diubah, terutama di masyarakat pesisir.

“Masyarakat pesisir secara umum belum mempertimbangkan asuransi sebagai salah satu produk perlindungan diri dan keluarga. Mereka lebih memprioritaskan kebutuhan harian, sehingga manfaat asuransi kerap terabaikan,” ujarnya.

Muchlasin menekankan, lewat berbagai kegiatan literasi keuangan, OJK berusaha mengedukasi masyarakat agar memahami bahwa asuransi hadir bukan hanya sebagai produk keuangan, tetapi juga instrumen perlindungan yang bisa menjaga kestabilan ekonomi keluarga ketika risiko tak terduga terjadi.

“Asuransi itu bukan hanya investasi, tetapi juga perlindungan. Kalau masyarakat memahami fungsi ini, maka mereka akan lebih siap menghadapi risiko hidup, baik di sektor perikanan, pertanian, maupun usaha kecil lainnya,” tambahnya.

OJK berharap melalui penguatan literasi asuransi, masyarakat di Sulsel, khususnya di wilayah pesisir, semakin sadar pentingnya melindungi diri dan keuangan keluarga. Dengan begitu, tujuan inklusi keuangan yang merata dapat tercapai, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Asuransi untuk Nelayan

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Sulsel menilai literasi asuransi masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perlindungan asuransi, terutama di kalangan menengah ke bawah, menjadi hambatan utama dalam mendorong inklusi keuangan di sektor ini.

Ketua AAUI Sulsel, Firman Baso, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya memperluas edukasi dan literasi kepada masyarakat, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Upaya ini dilakukan agar generasi muda sejak dini memahami pentingnya asuransi sebagai bentuk perlindungan diri dan keluarga.

“AAUI mendorong anggotanya untuk aktif menyelenggarakan program literasi dan edukasi di sekolah maupun kampus. Harapannya, generasi muda ke depan tidak hanya sadar akan risiko, tetapi juga siap secara finansial menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan,” ujar Firman.

Sebagai bentuk komitmen, AAUI akan terus berperan aktif membantu penyebarluasan literasi asuransi ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk wilayah pesisir dan pelosok.

Firman menegaskan, sinergi antara pemerintah, lembaga jasa keuangan, dan pelaku industri menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan publik terhadap produk asuransi.

“Kami ingin asuransi dipandang bukan sekadar produk keuangan, melainkan instrumen perlindungan yang memberikan rasa aman dan keberlanjutan bagi keluarga dan komunitas,” pungkasnya.

Penulis: Gita Oktaviola

 

 

 

 

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda