Penulis Opini : dr. Wachyudi Muchsin “Dokter Koboi”
(Stafsus BPOM RI)
HARIAN.NEWS – Hari ini, sebuah perjalanan panjang akhirnya mencapai garis finis. Bukan karena hidup selalu ramah, bukan pula karena jalan yang ditempuh selalu terang, melainkan karena ada tekad yang tak pernah dipadamkan, doa yang terus dipanjatkan, dan kesabaran yang bertahan meski berkali-kali diuji keinginan untuk menyerah.
Hari ini, Prof. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D. resmi menyandang gelar Profesor. Sebuah sebutan yang tampak singkat, namun menyimpan ribuan langkah di belakangnya. Sebab menjadi Profesor bukan semata perkara gelar akademik.
Baca Juga : Negeri Tercinta Sedang Kurang Sehat, Saatnya Kita Menjadi Dokter Bagi Kesembuhannya
Ia adalah kisah tentang waktu yang dikorbankan, malam-malam panjang yang tak selalu terlihat, lelah yang jarang diceritakan, serta pilihan untuk tetap berjalan saat banyak orang memilih berhenti.
Perjalanan ini mengajarkan satu pesan kehidupan yang penting: bahwa takdir tidak pernah sepenuhnya datang sendiri – ia dijemput.
Dijemput dengan kerja keras. Dijemput dengan ketekunan. Dijemput dengan konsistensi, bahkan ketika hasil belum juga terlihat. Dalam hidup, kerap kali kita merasa terlambat.
Baca Juga : Dokter Koboi Jemput Hercules di Bandara dan Ajak ke Warkop
Merasa tertinggal. Merasa tidak cukup baik. Namun hari ini seakan berkata dengan lembut, “Tenang, tak ada satu pun perjuangan yang sia-sia.”
Yang lambat bukan berarti kalah. Yang jatuh bukan berarti gagal.
Yang tertunda bukan berarti ditolak – bisa jadi Tuhan sedang menyiapkan versi terbaik dari sebuah kemenangan.
Pencapaian ini bukan hanya tentang prestasi akademik. Ia adalah kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas rasa malas. Kemenangan atas ketakutan.
Kemenangan atas lelah yang selama ini dipendam diam-diam.
Ada pula pelajaran lain yang terasa sangat manusiawi: bahwa persahabatan pun memiliki ujiannya. Janganlah kita menjadi seperti bayang-bayang – hadir saat terang, menghilang saat gelap.
Baca Juga : Dokter Yudi Pembicara di Malaysia, Bahas Manfaat Kolostrum Untuk Kesehatan
Sebab persahabatan sejati bukan tentang duduk bersama ketika semua sedang mudah, melainkan tentang tetap tinggal saat dunia terasa berat.
Bukan hanya ikut tersenyum saat bahagia, tetapi ikut menopang ketika air mata jatuh tanpa suara.
Teman yang baik bukan hanya yang mengucapkan “selamat” ketika puncak telah diraih, melainkan yang berkata, “ayo, kamu bisa” ketika langkah masih tertatih dari dasar.
Hari ini juga mengingatkan kita: seseorang bisa sampai di titik ini bukan karena ia tak pernah lemah, melainkan karena ia tetap berjalan meski dalam keadaan lemah.
Baca Juga : Musin Pancaroba, Ini Pesan Penting Dokter “Koboi”
Selamat, Prof. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D. Semoga gelar ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, tetapi menjadi jalan pengabdian yang semakin luas – melahirkan ilmu yang bermanfaat, mencetak generasi yang lebih tangguh, serta menjadi pelita bagi dunia akademik dan kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa tinggi kita naik,
melainkan seberapa banyak kebaikan yang ikut naik bersama kita.
Biarlah mereka yang mencemooh dan menyimpan iri hati berlalu tanpa perlu ditanggapi.
Hari ini, takdir itu telah dijemput dengan penuh hormat.
Dan hari ini pula, sebuah sejarah kecil namun bermakna resmi ditulis:
seorang Profesor lahir dari perjuangan panjang yang tidak pernah mengkhianati ketekunan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
