Logo Harian.news

Imbauan MUI Soal Perbedaan Idulfitri: Jangan Saling Memaksakan

Editor : Andi Awal Tjoheng Kamis, 19 Maret 2026 23:24
Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi No 51, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: dok MUI
Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi No 51, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: dok MUI

🔸 Prinsip Batasan Ketaatan: Ketaatan kepada otoritas—baik ulama maupun pemerintah—bukanlah nilai absolut. Ia bersyarat: tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama, tidak mendorong pada kemaksiatan, dan tidak mengandung kedzaliman.

Dalam konteks perbedaan idul fitri 2026, prinsip ini menjadi penyangga toleransi: kita boleh berbeda tanggal, selama tidak saling mengkafirkan, tidak merendahkan, dan tidak memecah belah ukhuwah.

Refleksi: Ketika Ibadah Menjadi Ujian Kedewasaan Beragama

Baca Juga : Langit Sama, Lebaran Bisa Beda?

Pada akhirnya, persoalan penetapan 1 Syawal bukan sekadar soal kalender. Ia adalah cermin dari bagaimana umat Islam Indonesia mengelola perbedaan dalam bingkai keindonesiaan.

Sejarah mencatat, perbedaan hari raya tidak pernah menjadi penghalang untuk saling mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Masjid-masjid tetap ramai, silaturahmi tetap terjalin, dan semangat Idulfitri—kembali pada kesucian—tetap menjadi tujuan bersama.

Mungkin inilah pesan tersirat dari imbauan MUI: jangan biarkan perbedaan metode mengaburkan esensi ibadah. Jangan sampai debat hisab-rukyat membuat kita lupa bahwa Idul Fitri adalah tentang kemenangan spiritual, bukan kemenangan argumen.

Baca Juga : Kemenag Gelar Sidang Isbat 19 Maret, 120 Titik Rukyat Pantau Hilal Syawal 1447 H

“Kalau nanti pengen sepakat, sepakatin dulu metodenya.”

Kalimat Kiai Cholil ini bisa dibaca sebagai undangan untuk dialog yang lebih substantif: bukan sekadar berdebat siapa yang benar, tetapi merumuskan kerangka bersama yang menghormati keragaman metodologis sembari menjaga persatuan umat.

Hingga Sidang Isbat malam ini mengumumkan keputusannya, umat Islam Indonesia mungkin akan hidup dalam “ketegangan yang tenang”: menanti kepastian, sembari mempersiapkan hati untuk merayakan kemenangan—entah itu pada 20 atau 21 Maret 2026.

Yang pasti, langit akan tetap sama. Bulan akan tetap beredar sesuai ketetapan-Nya. Dan kita? Kita tetap saudara, meski berbeda tanggal merayakan hari yang fitri. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda