Logo Harian.news

Imbauan MUI Soal Perbedaan Idulfitri: Jangan Saling Memaksakan

Editor : Andi Awal Tjoheng Kamis, 19 Maret 2026 23:24
Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi No 51, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: dok MUI
Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi No 51, Menteng, Jakarta Pusat. Foto: dok MUI

Ketika Langit Menjadi Penentu: Mengurai Benang Kusut perbedaan Idulfitri 2026

HARIAN.NEWS, JAKARTA — Langit sore 29 Ramadan 1447 H mungkin akan menjadi saksi bisu atas sebuah pertanyaan yang kembali mengemuka: kapan sebenarnya umat Islam di Indonesia merayakan Idulfitri?

Baca Juga : Langit Sama, Lebaran Bisa Beda?

Di satu sisi, perhitungan astronomi modern (hisab) menunjukkan posisi hilal yang tipis. Di sisi lain, tradisi observasi langsung (rukyatul hilal) menghadapi tantangan teknis: tinggi bulan di seluruh wilayah Indonesia diprediksi belum mencapai batas minimal 3 derajat.

Bahkan di Aceh—titik paling barat yang biasanya menjadi “garda depan” rukyat—tinggi hilal hanya sekitar 2,51 derajat dengan elongasi 6,1 derajat. Sementara kriteria imkan rukyah yang disepakati mensyaratkan minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Dalam konteks inilah, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, pada Kamis (19/3/2026) menyampaikan imbauan yang bernada menenangkan.

Baca Juga : Kemenag Gelar Sidang Isbat 19 Maret, 120 Titik Rukyat Pantau Hilal Syawal 1447 H

Ia mengajak umat Islam untuk merayakan Idulfitri sesuai dengan keyakinan dan metode yang diyakini masing-masing, sembari mengingatkan agar tidak ada pihak yang saling memaksakan kehendak.

“Jangan dipaksa orang semuanya harus 20, sebagaimana orang yang mau lebaran 20, jangan dipaksa ke tanggal 21. Kalau nanti pengen sepakat, sepakatin dulu metodenya dan itu berkenaan dengan keyakinan kita,” ujarnya, dikutip dari laman resmi MUI.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika toleransi. Ia menyentuh inti persoalan yang kerap memicu ketegangan tahunan: perbedaan idul fitri 2026 bukan soal siapa yang benar atau salah, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi yang sama-sama memiliki landasan syar’i.

Hisab vs Rukyat: Dua Jalan Menuju Satu Bulan

Persoalan penentuan awal bulan hijriah, termasuk 1 Syawal, sejatinya adalah perdebatan klasik yang telah mengakar sejak abad-abad awal Islam. Dua metode utama yang berkembang:

🔹 Hisab: Perhitungan astronomis matematis untuk memprediksi posisi bulan dan matahari. Metode ini objektif, dapat dihitung jauh hari, dan konsisten secara ilmiah.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda