Bang Har:(Komunitas Penulis Kampung Sulsel)
HARIAN.NEWS, GOWA – Menjadi jurnalis itu tidak mudah. Dari luar, banyak orang melihatnya sederhana: datang ke lokasi, wawancara, lalu menulis berita. Selesai. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada proses panjang, ada tekanan, ada tanggung jawab besar yang sering tidak terlihat.
Jurnalisme bukan hanya soal bisa menulis.
Baca Juga : Putusan MK Perkuat Perlindungan Hukum Wartawan, Cegah Kriminalisasi Jurnalisme
Menulis itu memang penting, tapi itu hanya satu bagian kecil. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang jurnalis memahami apa yang ia tulis. Ia harus tahu mana fakta, mana opini, mana informasi yang masih mentah, dan mana yang sudah layak disampaikan ke publik.
Seorang jurnalis tidak boleh asal percaya. Verifikasi itu wajib. Setiap informasi harus dicek, ditelusuri, dan dipastikan kebenarannya. Tidak cukup satu sumber, harus ada pembanding. Sumber juga tidak boleh samar.
Harus jelas siapa yang berbicara, apa kapasitasnya, dan sejauh mana ia bisa dipercaya. Kalau sumber tidak jelas, maka informasi juga jadi lemah.
Baca Juga : AI Hanya Sebagai Alat Bantu, Wartawan Berintegritas Taat Kode Etik Jurnalistik
Dalam praktiknya, tidak semua narasumber mudah ditemui. Ada yang menghindar, ada yang menutup diri, ada juga yang sengaja memberi informasi yang tidak utuh. Di situ jurnalis diuji. Apakah ia mau berhenti, atau terus mencari sampai mendapatkan gambaran yang utuh.
Jurnalis juga tidak boleh mudah terbawa suasana. Ketika sebuah isu sedang ramai, tekanan untuk ikut menulis sangat besar. Apalagi di era sekarang, ketika media sosial bergerak sangat cepat. Tapi justru di situ pentingnya jurnalis tetap tenang. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang ramai itu fakta.
Menulis berita bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa paling tepat. Karena sekali berita dipublikasikan, dampaknya bisa luas. Bisa mempengaruhi opini publik, bisa merusak nama seseorang, bahkan bisa memicu konflik. Itulah kenapa setiap kata harus dipikirkan dengan hati-hati.
Baca Juga : Kebebasan Pers adalah Harga Mati
Jurnalis juga tidak boleh menghakimi. Tugasnya bukan menjadi hakim, tapi menyampaikan fakta. Biarkan publik menilai berdasarkan informasi yang disajikan. Jika ada tuduhan, harus berimbang. Jika ada pihak yang disudutkan, harus diberi ruang untuk menjawab. Itulah prinsip keadilan dalam jurnalisme.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
