Logo Harian.news
Minggu, 10 Mei 2026 13:44

Siapa Dandhy Laksono? Pembuat Film Pesta Babi yang Nobarnya Dibredel

Editor:  Andi Awal Tjoheng
Film dokumenter Pesta Babi, film yang nobarnya dibubarkan di Ternate dan Mataram (tangkaplayar_IG@cypripajudale)
Film dokumenter Pesta Babi, film yang nobarnya dibubarkan di Ternate dan Mataram (tangkaplayar_IG@cypripajudale)

Pesta Babi: Film yang Nobarnya Dibubarkan di Ternate dan Mataram

HARIAN.NEWS,JAKARTA – Nonton bareng film dokumenter ” Pesta Babi ” di sejumlah daerah dibubarkan aparat dalam beberapa hari terakhir. Mulai dari Ternate, Maluku Utara, hingga Mataram, Nusa Tenggara Barat, pemutaran film yang mengangkat isu konflik agraria di Papua Selatan itu dipaksa berhenti.

Baca Juga : KIBA & Huali Park, Industri Strategis Baru di Sulsel

Apa isi film Pesta Babi? Dan siapakah pembuatnya hingga memicu kontroversi?

Sinopsis: Menyorot Proyek Strategis Nasional di Papua

Pesta Babi merupakan film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale yang mengangkat kisah masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. Film ini menyoroti tekanan yang dialami warga lokal akibat ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk pembukaan lahan pangan dan industri bioenergi.

Baca Juga : H Najmuddin MoU Rp 1 T di China untuk Ekonomi RI

Sepanjang durasi sekitar 95 menit, penonton diperlihatkan dampak deforestasi, ancaman terhadap sumber pangan tradisional, hingga hilangnya hutan adat. Dokumenter ini juga secara terbuka mengkritik proyek strategis nasional pemerintah serta menyebut situasi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme modern” atas Papua.

Judul ” Pesta Babi ” sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon, sebuah ritual adat besar yang melibatkan babi sebagai simbol sosial dan budaya. Film memakai istilah itu sebagai metafora bahwa kerusakan hutan juga mengancam identitas budaya masyarakat adat.

Film ini merupakan hasil kolaborasi Watchdoc, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru.

Baca Juga : Respons Rencana Prabowo Evaluasi Proyek Strategis Nasional, Jokowi: Tidak apa-apa, Kan Baik!

Pembubaran di Ternate: “Demi Cegah Isu SARA”

Insiden pembubaran paling viral terjadi di Ternate, Maluku Utara. Kegiatan nonton bareng yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Maluku Utara di kawasan Benteng Oranie pada Jumat (8/5/2026) malam dibubarkan aparat TNI.

Komandan Kodim 1501/Ternate, Kolonel Infanteri Jani Setiadi, menyatakan bahwa pembubaran dilakukan demi menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Baca Juga : Kampung Hilang, Ruang Hidup Tergusur: Kisah Pilu Perempuan Tani di Balik Megaproyek Bendungan Karalloe

“Kami mengimbau agar kegiatan ini tidak dilanjutkan demi mencegah isu SARA yang dapat merusak persaudaraan kita di Kota Rempah ini,”* ujar Jani.

Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan nobar tersebut belum memiliki izin resmi dari pihak kepolisian. Selain itu, penggunaan judul film dan spanduk bertuliskan ” Pesta Babi ” dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

Komentar Anda
Terkini
Populer