HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pada Maret 2024, Inflasi Sulawesi Selatan tercatat 0,38% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi Februari 2024 sebesar 0,30% (mtm). Namun masih di bawah inflasi Nasional Maret 2024 yang tercatat sebesar 0,52% (mtm).
Menurut Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda, inflasi yang terjadi di Sulsel secara umum didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat terutama di periode Ramadan & Idul Fitri (sesuai pola historisnya), di tengah belum pulihnya pasokan.
“Untuk komoditas beras, bergesernya masa panen raya ke April 2024 berdampak pada terbatasnya pasokan dan tingginya harga beras di masyarakat,” ucapnya saat menghadiri penutupan kegiatan Pesyar di Hotel Claro Makassar, Senin (01/02/2024).
Baca Juga : Wabup Lutra Tinjau Harga Pangan Jelang Ramadan
Demikian pula dengan telur yang masih mengalami kenaikan harga akibat tingginya harga jagung pakan. Terbatasnya pasokan cabai rawit pasca panen raya Januari – Februari 2024 juga turut andil dalam inflasi pada Maret 2024.
Komoditi barang dan jasa lainnya yang turut mempengaruhi inflasi bulan Maret 2024 yaitu Angkutan Udara, Emas Perhiasan, dan Rokok Kretek.
Namun demikian, masih tingginya pasokan komoditas tomat, ikan teri, cabai merah dan bawang merah menjadi faktor penahan inflasi yang lebih tinggi secara bulanan.
Baca Juga : Pemerintah Pastikan Stabilitas Harga Pangan Selama Ramadan dan Lebaran 2025
Sejalan dengan hal tersebut, secara tahunan inflasi Sulsel tercatat sebesar 2,75% (yoy), lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 3,05% (yoy).
Laju inflasi tersebut masih berada pada rentang sasaran inflasi Nasional 2,5±1% (yoy). Pencapaian inflasi tersebut tidak terlepas dari sinergi berbagai pemangku kepentingan yang tergabung dalam kerangka Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Baca Juga : PJ Gubernur Sultra Sidak Harga Pangan Jelang Ramadhan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
