“Nilai ekspor boleh tinggi, ekonomi boleh tumbuh, tetapi kalau negara tidak stabil karena konflik sosial berbasis agama, semuanya menjadi sia-sia,” ujarnya.
Deteksi Dini Potensi Konflik
Dalam kesempatan itu, Menag meminta kepala daerah untuk lebih responsif terhadap potensi konflik berbasis agama. Ia menekankan pentingnya deteksi dini agar kejadian seperti yang pernah terjadi di Poso dan beberapa daerah lainnya tidak terulang.
Baca Juga : Swasembada Pangan Tercapai, Mentan Amran Apresiasi Peran Kepala Daerah
“Jangan sampai kita lengah. Konflik berbasis agama bisa sangat dahsyat dampaknya. Oleh karena itu, kita harus proaktif, turun ke lapangan, dan segera menangani jika ada potensi konflik,” jelasnya.
Menag juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang memperalat agama demi kepentingan jangka pendek.
Ia menganalogikan agama seperti nuklir, yang bisa menjadi sumber energi besar jika digunakan dengan bijak, tetapi bisa menjadi senjata mematikan jika disalahgunakan.
Baca Juga : FKUB Harumkan Makassar di Nasional, Raih Harmony Award 2025
“Agama harus menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan yang memecah belah. Jika digunakan dengan baik, agama akan menjadi pemicu luar biasa dalam membangun bangsa,” pungkasnya.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah, Menag optimistis bahwa kerukunan umat beragama akan terus menjadi kekuatan bagi Indonesia untuk tetap solid dan maju di tengah kemajemukan yang dimilikinya. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
