Sudut pandang anak dan remaja juga menegaskan bahwa perlindungan digital tidak boleh bersifat represif. Aturan yang terlalu mengekang tanpa dialog justru dapat mendorong mereka mencari ruang alternatif yang lebih sulit diawasi.
Karena itu, PP TUNAS perlu diiringi pendekatan partisipatif “mendengar suara anak, melibatkan remaja dalam literasi digital, dan menjadikan mereka bagian dari solusi, bukan sekadar objek perlindungan”.
Baca Juga : Husniah vs Panggung Politik: Ketika Seorang Bupati Perempuan Memilih Melawan, Bukan Tunduk
Pada akhirnya, efektivitas PP TUNAS di tengah riuh media sosial akan sangat ditentukan oleh sejauh mana regulasi ini hadir dalam pengalaman nyata anak dan remaja.
Bukan hanya sebagai aturan di balik layar, tetapi sebagai sistem yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan didampingi saat berselancar di dunia digital.
Tanpa itu, PP TUNAS berisiko tenggelam dalam kebisingan media sosial yang justru paling sering mereka hadapi. ***
Baca Juga : Di Era Digital, Kita Mencari Kebenaran atau Pembenaran?
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
