Logo Harian.news

Napak Tilas PSBM: Jenderal M. Jusuf dan Dentang Gong Pertama

Editor : Redaksi Minggu, 22 Maret 2026 17:06
Jenderal M. Jusuf. (Dok. Ist)
Jenderal M. Jusuf. (Dok. Ist)

Oleh: Alif we Onggang

HARIAN.NEWS – Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) kini telah memasuki edisi ke-26, menandai perjalanan panjang lebih dari tiga dekade sebagai forum strategis para perantau dan pelaku usaha asal Sulawesi Selatan.

Baca Juga : 3.000 Peserta Meriahkan PSBM XXVI, Pengusaha Sulsel Turut Hadir dari Berbagai Daerah

Jejak awalnya bermula pada 1993 di Balai Manunggal, Makassar—sebuah momentum penting yang dibuka oleh Muhammad Jusuf, mantan Panglima TNI yang kala itu menjadi simbol kuat keterhubungan antara kepemimpinan nasional dan akar kedaerahan.

Dalam arahannya, Jusuf tidak sekadar membuka acara, tetapi menanamkan gagasan besar: saudagar Bugis-Makassar harus mengambil peran lebih luas dalam pembangunan bangsa dan daerah.

Namun, pidatonya saat itu juga menyisakan cerita menarik. Ia sempat menyinggung soal naskah Supersemar—dokumen penting dalam sejarah politik Indonesia.
Pernyataan tersebut memicu perhatian publik.

Sejumlah laporan menyebut Jusuf mengetahui bahkan pernah memegang salah satu naskah terkait Supersemar, meski ia tidak membuka detailnya. Ia hanya menyarankan publik membaca memoarnya. Namun hingga wafat, memoar itu tak pernah terbit, menyisakan misteri yang ikut terkubur bersamanya.

Dari momentum itulah, gong pertama PSBM ditabuh—dan gaungnya terus bergema hingga hari ini.

Gagasan Awal: Mengikat Diaspora, Menggerakkan Daerah

PSBM lahir dari kolaborasi tiga kekuatan: Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Kadin, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Gagasan ini diinisiasi oleh Ketua Umum KKSS saat itu, Beddu Amang, dan didukung oleh Gubernur Sulsel Zainal Basri Palaguna serta Ketua Kadin Sulsel Jusuf Kalla, bersama Aksa Mahmud dan Alwi Hamu.

Pertemuan awal pada 1991 di Jakarta menjadi titik tolak. Para tokoh ini melihat fenomena penting: diaspora Bugis-Makassar yang sukses di berbagai daerah—dari Papua, Kalimantan, hingga Sumatera—justru lebih banyak berinvestasi di luar kampung halaman.

Semangat kewirausahaan tetap hidup, tetapi keterhubungan ekonomi dengan daerah asal mulai melemah.
PSBM kemudian dirancang sebagai jembatan: mempertemukan saudagar rantau dengan tanah kelahirannya.

Harapannya jelas—investasi di daerah tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat ikatan kultural lintas generasi.

Dalam konteks ini, ekonomi dan budaya berjalan beriringan. Jaringan bisnis menjadi perekat identitas.

Dari Silaturahmi ke Fondasi Jaringan Bisnis

Sejak awal, PSBM bukan sekadar ajang temu kangen. Ia berkembang menjadi forum strategis yang mempertemukan pelaku usaha lintas sektor, bahkan dari kawasan ASEAN.
PSBM II (1995) yang dibuka B. J. Habibie mulai menekankan pentingnya interaksi bisnis.

PSBM III (1996) oleh Mar’ie Muhammad memperluas cakrawala ke arah kerja sama konkret.

Sementara PSBM IV (1997) di bawah Menteri Perindustrian dan Perdagangan Tungki Ariwibowo menegaskan pentingnya kemitraan usaha.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Krisis politik 1998 memaksa PSBM V ditunda. Reformasi mengubah lanskap nasional, sekaligus menjadi ujian bagi ketahanan jaringan saudagar.

Evaluasi dari pertemuan awal menunjukkan sejumlah kelemahan: keterbatasan jaringan bisnis, lemahnya akses informasi, serta kemampuan manajerial yang belum optimal.

Padahal, untuk bersaing di pasar bebas—baik global maupun domestik—kemitraan dan jejaring adalah prasyarat utama.

Jejaring, Modal Ventura, dan Upaya Kelembagaan.

Kesadaran akan pentingnya kelembagaan melahirkan berbagai inisiatif. Salah satunya adalah pembentukan perusahaan modal ventura Sulawesi Selatan pada 1994 yang diresmikan oleh Mar’ie Muhammad.

Dengan dukungan puluhan anggota, dana yang terkumpul disalurkan untuk memperkuat usaha kecil dan menengah di daerah.

Selain itu, muncul gagasan pembentukan koperasi KKSS dan bahkan perusahaan bersama, PT Saudagar Bugis Makassar (PT SBM).

Namun krisis moneter dan dinamika politik membuat sejumlah rencana besar ini belum sepenuhnya terwujud.
Upaya lain seperti Yayasan Pembangunan Sulawesi Selatan (YPSS) dan Makassar Business Centre (MBC) menunjukkan bahwa semangat membangun jaringan ekonomi terus hidup, meski tidak semua inisiatif bertahan.

Era Jusuf Kalla: PSBM sebagai Magnet Nasional

Memasuki era reformasi, PSBM mengalami lonjakan eksposur. Ketika Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden pada 2004 mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono, PSBM menjelma menjadi forum yang semakin prestisius dan diperhitungkan.

Jusuf Kalla menjadi figur sentral—bukan hanya sebagai pembicara, tetapi juga sebagai simbol saudagar yang sukses di level nasional. Ia hampir selalu hadir, bahkan identik sebagai “pemukul gong” dalam setiap perhelatan.

Di masa ini, PSBM tak hanya berskala nasional, tetapi juga merambah jejaring internasional. Kehadiran tokoh-tokoh luar negeri, termasuk pemimpin regional, menegaskan posisi strategisnya.

Tantangan Baru: Saudagar atau Politikus?

Di tengah perkembangannya, muncul kegelisahan. Jusuf Kalla pernah menyampaikan keprihatinan atas kecenderungan banyak saudagar yang beralih ke dunia politik.

Pada saat yang sama, minat generasi baru Bugis-Makassar untuk terjun ke dunia usaha dinilai menurun.

Padahal, identitas saudagar dalam budaya Bugis-Makassar bukan sekadar profesi, melainkan manifestasi nilai siri’—rasa harga diri yang mendorong seseorang untuk berhasil.

Jika kecenderungan ini terus berlanjut, maka PSBM menghadapi tantangan eksistensial: bagaimana menjaga semangat kewirausahaan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Menatap Masa Depan PSBM

Kini, di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sebagai Ketua Umum KKSS, harapan baru kembali disematkan.

Dengan latar belakang sebagai saudagar, Amran dinilai memiliki kapasitas untuk mengembalikan roh awal PSBM—sebagai motor penggerak ekonomi berbasis jaringan diaspora.

PSBM tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus terus berevolusi menjadi platform konkret yang melahirkan kolaborasi, investasi, dan inovasi.

Dentang gong yang pertama kali dipukul oleh Jenderal M. Jusuf pada 1993 bukan sekadar simbol pembukaan acara. Ia adalah penanda dimulainya sebuah gerakan—gerakan yang hingga kini masih mencari bentuk terbaiknya.

Kita menunggu, apakah gema itu akan kembali menguat, atau justru meredup ditelan zaman.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda