Logo Harian.news

Kampus Berdiri di Desa Kampili, Tetapi Mimpi di Tempat Lain

Editor : Andi Awal Tjoheng Kamis, 18 Juni 2026 18:39
Kampus IPDN Gowa di Desa Kampili. (doc_mustaminraga)
Kampus IPDN Gowa di Desa Kampili. (doc_mustaminraga)

Oleh: _Mustamin Raga_

HARIAN.NEWS, GOWA – Pada tahun 2011, berdirilah kampus cabang Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Kehadiran kampus pencetak pamong pemerintahan itu bukanlah peristiwa biasa. Sebuah lembaga pendidikan kedinasan yang prestisius hadir di tengah hamparan sawah dan permukiman warga Desa Kampili.

Baca Juga : Ingin Kuliah Gratis IPDN dan Bisa Jadi CPNS Kemendagri? Berikut Syarat Lengkapnya!

Menurut berbagai cerita yang berkembang pada masa itu, salah satu tokoh yang sangat mendorong dan memperjuangkan agar kampus tersebut berlokasi di Gowa adalah Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sul-Sel saat itu. Beliau tampak begitu bersemangat dan bersungguh-sungguh agar Gowa menjadi salah satu rumah bagi lembaga pendidikan yang mencetak para pamong pemerintahan itu.

Pertanyaannya sederhana: mengapa harus Gowa?

Tentu saja, hanya Pak Syahrul sendiri yang mengetahui secara persis seluruh pertimbangan dan niat yang ada di dalam benaknya. Namun, sebagai orang yang mencoba membaca logika pembangunan, sangat wajar jika kita berasumsi bahwa salah satu harapannya adalah agar kehadiran IPDN di Gowa dapat membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak pamong pemerintahan dari putra-putri daerah, khususnya dari Kabupaten Gowa.

Baca Juga : Ketika Listrik Wujudkan Impian Para Petani di Ladang Kampili

Bukankah hampir setiap pembangunan besar yang diperjuangkan seorang pemimpin biasanya memiliki dimensi jangka panjang bagi masyarakat setempat? Jalan dibangun agar orang mudah bergerak. Bendungan dibangun agar pertanian berkembang. Perguruan tinggi didirikan agar kualitas sumber daya manusia meningkat. Maka, sangat manusiawi bila orang berpikir bahwa perjuangan menghadirkan IPDN di Gowa juga mengandung harapan agar kelak akan lahir kader-kader pemerintahan dari tanah ini.

Hari ini, 18 Juni 2026, saya berada di Desa Kampili. Saya sengaja bertanya kepada kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat.

“Sejak IPDN berdiri pada tahun 2011, sudah berapa orang anak Kampili yang berhasil diterima menjadi praja?”

Baca Juga : Kolaborasi dalam Semangat Kemerdekaan: Pemerintah, Civitas IPDN dan Masyarakat Desa Kampili Gelar Aksi Jalan Sehat

Jawabannya sungguh mencengangkan.

Tidak ada.

Sampai hari ini, menurut keterangan yang saya peroleh, belum ada satu pun putra Desa Kampili yang berhasil lolos dan menempuh pendidikan di kampus yang berdiri di desanya sendiri.

Baca Juga : Petani di Kampili Apresiasi Bantuan Program Irigasi dari Hamka B Kady

Sekretaris Desa Kampili bahkan menceritakan bahwa baru pada tahun 2021 ada seorang anak muda yang diterima menjadi praja IPDN. Namun, ia bukan berasal dari Desa Kampili. Ia berasal dari Desa Julu Pa’mai, desa lain di Kecamatan Pallangga, dan diterima melalui jalur prestasi.

Fakta itu justru mempertegas sebuah ironi.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN

Follow Social Media Kami

KomentarAnda