Tantangan lain datang dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Mikroplastik, menurut Prof. Taruna, kini telah ditemukan masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan ke aliran darah.
Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi harus selalu berpihak pada keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan.
Dalam konteks tersebut, Prof. Taruna menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang aman untuk berpikir dan berpendapat.
Ia mengingatkan bahwa gagasan besar kerap lahir dari keberanian melawan arus, seraya menyinggung kisah penemu alat pacu jantung yang sempat mengalami penolakan serius di lingkungan akademik.Ia juga menyinggung bahwa hingga kini Indonesia belum memiliki peraih Hadiah Nobel.
Namun, ia mengingatkan bahwa program pemerataan pendidikan dasar melalui SD Inpres di masa lalu justru menginspirasi negara lain yang kemudian berhasil melahirkan ilmuwan peraih Nobel.
Baca Juga : Taruna Ikrar Bawa BPOM Masuk 6 Besar Nasional IKD ASN, Tata Kelola SDM Berbasis Data Makin Kuat
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan potensi, tetapi masih membutuhkan keberanian bermimpi besar dan membangun ekosistem ilmu pengetahuan secara konsisten.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Prof. Taruna menempatkan kolaborasi Akademisi Bisnis dan Pemerintah sebagai kunci percepatan inovasi. BPOM, kata dia, berupaya menjadi penghubung antara riset kampus dan kebutuhan masyarakat serta industri.
Hingga Januari 2026, BPOM telah menjalin 180 kerja sama dengan perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari 900 mahasiswa terlibat sebagai fasilitator dalam berbagai program pendampingan dan magang.
Baca Juga : Gerak Cepat Hadapi Lonjakan Campak, Taruna Ikrar: BPOM Ijinkan Vaksin Dewasa
Selain itu, BPOM menyiapkan berbagai skema fasilitasi, mulai dari konsultasi regulasi, standardisasi bahan baku, pendampingan uji pra-klinik dan klinik, hingga pertemuan antara peneliti dan pelaku usaha.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

