Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk ketangguhan mental dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Ia menegaskan bahwa tekanan justru dapat menjadi sumber kekuatan. Semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin besar pula potensi energi untuk tumbuh dan melangkah lebih tinggi.
“Mimpi adalah sumber energi. Tanpa mimpi besar, tidak ada dorongan untuk melampaui keterbatasan,” ujarnya.
Pesan reflektif tersebut berangkat dari tantangan global yang semakin kompleks.
Prof. Taruna menyebut dunia kini memasuki era Society 5.0, ketika kecerdasan buatan, teknologi digital, dan ilmu pengetahuan terhubung langsung dengan kehidupan manusia.
Baca Juga : Taruna Ikrar Bawa BPOM Masuk 6 Besar Nasional IKD ASN, Tata Kelola SDM Berbasis Data Makin Kuat
Sejak awal 2000-an, ia telah menaruh perhatian pada perkembangan kecerdasan buatan, khususnya dalam kaitannya dengan neurosains.
Perkembangan ilmu pengetahuan, menurutnya, membuka berbagai kemungkinan baru, termasuk peningkatan kualitas dan usia hidup manusia di masa depan. Namun, kemajuan tersebut berjalan beriringan dengan risiko global, mulai dari pandemi, silent pandemic, hingga dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Pandemi Covid-19 disebutnya sebagai titik balik besar yang memaksa dunia, termasuk kampus, untuk beradaptasi secara cepat. Dari krisis tersebut, banyak inovasi lahir dalam waktu singkat.
Baca Juga : Gerak Cepat Hadapi Lonjakan Campak, Taruna Ikrar: BPOM Ijinkan Vaksin Dewasa
Namun, di balik pandemi yang tampak, dunia juga menghadapi ancaman kesehatan global yang berkembang perlahan dan menelan korban dalam jumlah besar.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

