Logo Harian.news

Siapa Dandhy Laksono? Pembuat Film Pesta Babi yang Nobarnya Dibredel

Editor : Andi Awal Tjoheng Minggu, 10 Mei 2026 13:44
Film dokumenter Pesta Babi, film yang nobarnya dibubarkan di Ternate dan Mataram (tangkaplayar_IG@cypripajudale)
Film dokumenter Pesta Babi, film yang nobarnya dibubarkan di Ternate dan Mataram (tangkaplayar_IG@cypripajudale)

“Kami memonitor kegiatan ini. Kemudian keberadaan kegiatan ini, kami melihat di media sosial, banyaknya penolakan akan kegiatan film ini, karena banyak yang menilai ini bersifat provokatif dari judulnya,” tegas Jani.

Namun, ia mempersilakan diskusi tentang pelestarian lingkungan tetap dilanjutkan.”Berdiskusi tentang pelestarian lingkungan hidup itu hal yang positif, silakan dilanjutkan. Kemudian untuk kegiatan (nobar) saya minta tolong dihentikan, agar tidak dijadikan bahan (untuk) dipolitisir kemudian hari,” tuturnya.

Pembubaran di Kampus: Unram & UIN Mataram

Baca Juga : KIBA & Huali Park, Industri Strategis Baru di Sulsel

Sebelum insiden Ternate, polemik serupa terjadi di lingkungan Universitas Mataram (Unram), Kamis (7/5/2026) malam. Ratusan mahasiswa yang hendak menonton bareng film Pesta Babi di halaman Unit Kegiatan Mahasiswa dibubarkan paksa oleh satpam kampus.

Wakil Rektor III Unram, dr. Sujita, yang memimpin langsung pembubaran memberikan alasan singkat.

“Film ini saya kira kurang baik untuk ditonton. Lebih baik kita nonton bareng sepak bola,” ujarnya di hadapan mahasiswa.

Baca Juga : H Najmuddin MoU Rp 1 T di China untuk Ekonomi RI

Sujita mengklaim pembubaran dilakukan atas perintah Rektor Unram dan demi menjaga kondusivitas kampus. Namun saat didesak mengenai alasan detail, ia enggan menjelaskan lebih lanjut.

Pembatalan serupa juga terjadi di UIN Mataram, di mana acara nobar dilaporkan bubar hanya beberapa menit setelah film dimulai.

Ketua Grahapala Unram, Randhy, mempertanyakan keras alasan pelarangan tersebut.

Baca Juga : Respons Rencana Prabowo Evaluasi Proyek Strategis Nasional, Jokowi: Tidak apa-apa, Kan Baik!

“Kenapa kami dilarang putar film dokumenter Pesta Babi? Apa alasannya?” kata Randhy di hadapan staf rektorat.

Mahasiswa lainnya, Darmawan Alawi, menilai pihak kampus tidak independen dan takut terhadap tekanan pihak tertentu. “Mahasiswanya malu kampusnya melarang nonton film yang sangat perlu dan penting ini,” teriak sejumlah mahasiswa.

Meski dibubarkan, mahasiswa memindahkan lokasi pemutaran ke sebuah kafe berjarak 50 meter dari gerbang kampus agar acara tetap terlaksana.

Baca Juga : Kampung Hilang, Ruang Hidup Tergusur: Kisah Pilu Perempuan Tani di Balik Megaproyek Bendungan Karalloe

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda