Logo Harian.news

HARIAN SEJARAH

12 Mei dalam Sejarah, Tragedi Trisakti hingga Hari Perawat Internasional

Editor : Andi Awal Tjoheng Selasa, 12 Mei 2026 11:28
Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti—Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie—tewas tertembak dalam demonstrasi menuntut reformasi. (tangkaplayar_YouTube@Matahatipemuda)
Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti—Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie—tewas tertembak dalam demonstrasi menuntut reformasi. (tangkaplayar_YouTube@Matahatipemuda)

Data FAO mengkhawatirkan: sekitar 40 persen hasil panen global hilang setiap tahun akibat serangan hama dan penyakit. Kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar, sementara dampaknya mengancam ketahanan pangan dunia.

Di tengah perubahan iklim dan globalisasi perdagangan, kesehatan tumbuhan menjadi semakin kritis. Satu spesies invasif saja dapat menghancurkan ekosistem dan mata pencaharian petani.

Fibromyalgia dan ME/CFS: Suara untuk Penyakit yang Tak Terlihat

Baca Juga : Pro Kontra Mantan Presiden RI Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

12 Mei juga menjadi momentum kampanye kesadaran untuk Fibromyalgia dan Myalgic Encephalomyelitis/Chronic Fatigue Syndrome (ME/CFS)—dua kondisi kronis yang sering disalahpahami.

Fibromyalgia menyebabkan nyeri otot menyeluruh, gangguan tidur, dan kelelahan berkepanjangan. Sementara ME/CFS melumpuhkan penderitanya dengan kelelahan ekstrem yang tak membaik meski istirahat.

Kedua kondisi ini sulit didiagnosis karena gejalanya sering disalahartikan sebagai stres atau depresi. Jutaan penderita di seluruh dunia berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan perawatan yang tepat.

Baca Juga : Diprakarsai Ketua DPRD Makassar, Jalan Sehat 25 Tahun Reformasi di Losari Bertabur Hadiah

Refleksi 12 Mei: Antara Duka dan Harapan

Dari Jakarta hingga Sichuan, dari Berlin hingga Firenze, 12 Mei mengajarkan kita tentang kompleksitas sejarah. Tanggal ini adalah pengingat bahwa perubahan sering datang dengan harga mahal, bahwa pengabdian bisa menyelamatkan jutaan nyawa, dan bahwa solidaritas mampu mengalahkan blokade.

Bagi Indonesia, 12 Mei adalah janji untuk terus memperjuangkan demokrasi dan keadilan. Bagi dunia, ini adalah momentum menghormati para pahlawan kesehatan dan mengenang korban bencana.

Sejarah 12 Mei bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah kompas moral yang mengarahkan kita menuju masa depan yang lebih manusiawi. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda