Hari Kartini: Perjuangan Emansipasi Wanita Belum Usai
HARIAN.NEWS,JAKARTA – Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini. Tanggal itu adalah hari lahir Raden Ajeng Kartini, perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, pada 1879.
Baca Juga : Hari Kartini 2026 Libur? Cek Faktanya di Sini
Peringatan resmi dimulai setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No.108/1964. Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Hari Kartini pertama kali dirayakan pada 21 April 1965.
Dari Surat-surat hingga Sekolah Gratis
Kartini tumbuh dalam budaya pingit yang membatasi gerak perempuan. Ia tak bebas menentukan pilihan. Perbedaan perlakuan dengan saudara laki-lakinya membuatnya gigih memperjuangkan kesetaraan.
Baca Juga : Hari Kartini, Srikandi PLN Berbagi Bingkisan dan Semangat di YKAKI Makassar
Berkat kegigihannya, Kartini mendirikan sekolah gratis untuk anak perempuan di Jepara dan Rembang. Materi yang diajarkan meliputi menjahit, menyulam, dan memasak. Ide ini kemudian menyebar ke Semarang, Surabaya, Yogyakarta, hingga Cirebon.
Sebelum menikah, Kartini rajin menulis surat kepada teman-teman korespondensi di Belanda. Surat-surat itu berisi kritik terhadap feodalisme, pernikahan paksa, poligami, dan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Setelah Kartini wafat pada 17 September 1904 di usia 25 tahun, J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya. Buku Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) terbit pada 1911. Balai Pustaka kemudian menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.
Baca Juga : Tyna Mawangi dan Semangat Kartini 2025 di Gowa
Tantangan Terbesar Perempuan Masa Kini
Sayangnya, perjuangan Kartini belum sepenuhnya usai. Banyak ibu rumah tangga masih terhambat akses untuk berperan lebih di masyarakat.
Mereka kerap terbebani pekerjaan domestik seperti mencuci, memasak, dan mengurus keluarga. Sebelum sempat berkarya di sektor publik, energi habis untuk urusan rumah tangga.
Baca Juga : Peringati Hari Bumi dan Hari Kartini, OPAB GEMPA Gelar Penanaman Pohon dan Bersih Gunung
Selain itu, rendahnya pendidikan formal membuat banyak perempuan hanya bekerja di sektor informal: pedagang kecil, buruh pabrik berupah rendah, atau petani sayur.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

