Logo Harian.news

Danny akan Pangkas Anggaran Demi 1.700 Nakes yang Belum Terima TPP

Editor : Rasdianah Selasa, 11 Juni 2024 20:21
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, foto: HN/Sinta
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, foto: HN/Sinta

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto tengah mengakali pemangkasan anggaran untuk dialihkan ke 1.700 tenaga kesehatan (Nakes) di Puskesmas yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak menerima tambahan penghasilan pegawai (TPP).

“Saya akan lihat dan akan tukar jadi TPP saja. Saya lebih bagus kasih mereka, yang penting kita efektifkan,” ujar Danny, sapaannya, Selasa (11/6/2024).

Danny menyebutkan, salah satu anggaran yang akan dipotong dari pengelolaan sampah di Kota Makassar.

Baca Juga : Kecamatan Panakukkang Terima Kunjungan Monev TP PKK Makassar di Dua Posyandu

Pasalnya, Pemkot Makassar telah mengeluarkan anggaran sekitar Rp 120 miliar bersumber dari Pendapat Asli Daerah (PAD) Kota Makassar, khusus untuk pengelolaan sampah atau kebersihan Kota Makassar.

“Namun yang masuk ke kantong PAD hanya Rp 30 miliar, ini artinya terjadi keboran yang tidak sedikit, bahkan sangat tinggi,” kata Danny.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Makassar Nursaidah Sirajuddin mengamini bahwa sebanyak 1.700 ASN Dinkes Makassar hingga saat ini belum menerima (Tambahan Penghasilan Pegawai), sesuai regulasi.

Baca Juga : Rapat Dewan, PKS Beri 9 Catatan Penting ke Danny: Singgung Ekonomi Warga hingga Judi Online

“Ada Pergub nomor 2 Tahun 2024. Menyatakan bahwa sebagai ASN yang bertugas dalam urusan bidang pendapatan daerah dapat menerima intensif pajak dan TPP,” jelasnya.

Katanya, para ASN Dinkes hanya mendapat jasa pelayanan dari jaminan kesehatan. Seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Sementara insentif pelayanan tersebut, katanya berbeda dengan TPP. Nilainya yang diterima oleh ASN Dinkes Makassar terbilang kecil.

Baca Juga : Jumat Sehat, Jajaran OPD Kecamatan Panakukkang Gelar Senam Bersama

“Karena kecil sekali memang. Apalagi kapitasinya kecil. Dokternya saja paling bisa dapat Rp1.500.000. Kalau kapitasinya tinggi lumayan, dapat Rp 3 juta, Rp 4 juta dokternya. Kalau kapitasinya tinggi. Jadi itu tidak merata,” tandasnya.

(NURSINTA)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news atau Whatsapp 081243114943

Follow Social Media Kami

KomentarAnda