“Pada akhirnya, kami akan sangat senang telah menjadi bagian dari turnamen sepak bola terbesar di dunia.”
Mentalitas Underdog yang Patut Dihargai
Baca Juga : Ayari Cetak 2 Gol, Swedia Gilas Tunisia 5-1
Pernyataan Advocaat mencerminkan realitas sepak bola modern. Tidak semua tim datang dengan ambisi juara. Bagi negara kecil seperti Curaçao—negara kepulauan di Karibia dengan populasi hanya sekitar 150.000 jiwa—berada di Piala Dunia sudah merupakan prestasi luar biasa.
Kekalahan 1-7 mungkin terlihat memalukan di atas kertas. Tapi bagi para pemain Curaçao yang berdiri di lapangan yang sama dengan bintang-bintang Jerman, ini adalah momen yang akan dikenang seumur hidup.
Advocaat memahami betul hal ini. Dengan pengalaman melatih selama empat dekade, ia tahu bahwa sepak bola bukan hanya tentang taktik dan strategi. Ia tentang emosi, harapan, dan kebanggaan.
Baca Juga : Pantai Gading 1-0 Ekuador: Gol Dramatis Amad Diallo Menit 90
Pelajaran Berharga untuk Masa Depan
Kekalahan ini sebenarnya memberikan pelajaran berharga. Curaçao sempat menyamakan kedudukan, membuktikan bahwa mereka bisa bersaing, setidaknya untuk periode tertentu. Masalahnya adalah konsistensi dan kualitas skuad yang tidak sebanding dengan Jerman.
Namun, Advocaat melihat sisi positif. “Kami berharap bisa berbuat lebih banyak melawan Jerman, tetapi kami tidak mampu. Mereka sangat, sangat kuat,” akunya jujur. “Tapi para pemain tidak boleh berkecil hati.”
Baca Juga : Jepang Kembali Kejutkan Dunia: 2-2 Lawan Belanda
Pernyataan ini penting. Dalam turnamen panjang seperti Piala Dunia, mentalitas adalah kunci. Tim yang mudah menyerah setelah kekalahan besar biasanya akan hancur di laga berikutnya. Sebaliknya, tim yang bangkit bisa menciptakan kejutan.
Dua Laga Berikutnya: Peluang Membuktikan Diri
Advocaat tidak berhenti pada pembelaan. Ia juga memberikan visi ke depan. “Kita bisa memberikan kejutan di pertandingan kedua dan ketiga,” katanya, mengisyaratkan bahwa Curaçao tidak datang hanya untuk menjadi pelengkap.
Baca Juga : Pesta Gol Jerman: 7-1, Curacao Cetak Gol Perdana Piala Dunia
Ini bukan sekadar kata-kata motivasi. Advocaat adalah pelatih berkualitas yang tahu cara memaksimalkan potensi tim underdog. Rekam jejaknya membuktikan hal itu.

Para pemain Curaçao kebobolan 7 gol dari Jerman ||( doc_vietnam.vn)
Bagi Curaçao, kekalahan 1-7 dari Jerman adalah ujian pertama. Masih ada dua pertandingan lagi di fase grup. Dan jika mereka bisa membawa mentalitas yang sama—berani, tidak mudah menyerah, dan bangga mewakili negara—maka pengalaman Piala Dunia 2026 akan menjadi fondasi bagi masa depan sepak bola Curaçao.
Kebanggaan yang Lebih Besar dari Skor
Pada akhirnya, sepak bola bukan hanya tentang angka di papan skor. Bagi rakyat Curaçao yang menyaksikan timnya bertanding di panggung dunia, ada kebanggaan yang tidak bisa diukur dengan gol.
Advocaat memahami ini. Dan itulah mengapa ia tidak malu, tidak kecewa, justru bangga. “Kami tidak punya alasan untuk malu,” katanya sekali lagi, menegaskan pesan yang jelas: Curaçao datang, bermain, dan tidak akan pernah menyerah.
Untuk tim kecil dari Karibia, itu sudah lebih dari cukup. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
