HARIAN.NEWS, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digagas pemerintah bukan hanya sekadar intervensi pemenuhan gizi, melainkan strategi jangka panjang untuk membangun generasi emas 2045.
Salah satu kunci penting dalam program ini adalah menjadikan sayur sebagai menu utama dalam pola konsumsi harian anak-anak Indonesia.
Menurut data terbaru, jumlah penduduk Indonesia pada semester I tahun 2025 telah mencapai 286,7 juta jiwa, naik sekitar 1,7 juta jiwa dibandingkan dengan semester akhir 2024. Dengan populasi sebesar itu, skala intervensi gizi harus dilakukan secara masif dan merata agar dampaknya benar-benar terasa di seluruh pelosok negeri.
Baca Juga : Awal Tahun dengan Nurani, Taruna Ikrar Menanam Pohon dan Memastikan Obat Aman bagi Masyarakat
Sayur memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh. Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber utama serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang mendukung tumbuh kembang optimal, mencegah stunting, sekaligus melindungi tubuh dari penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi.
Lebih jauh, konsumsi sayur yang cukup terbukti membantu menjaga kesehatan pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, mengontrol kadar gula darah, menjaga kesehatan jantung, bahkan menurunkan risiko kanker tertentu.
Dengan demikian, membiasakan anak-anak mengonsumsi sayur sejak dini berarti memberikan perlindungan kesehatan yang berlapis-lapis hingga dewasa nanti.
Baca Juga : Soal Usulan “Power Rangers” jadi Sopir Mobil MBG
Indonesia memiliki kekayaan sayuran lokal yang berlimpah dan mudah diperoleh di pasar tradisional maupun hasil pertanian masyarakat.
Bayam kaya zat besi untuk mencegah anemia, kangkung mengandung serat tinggi yang baik untuk pencernaan, wortel kaya vitamin A untuk kesehatan mata, labu kuning mengandung beta-karoten sebagai antioksidan, sementara brokoli dan kubis dikenal memiliki senyawa yang menurunkan risiko kanker.
Variasi sayur ini tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga memperkaya menu MBG dengan cita rasa yang beragam sesuai budaya kuliner daerah.
Baca Juga : Manfaat MBG Mulai Terasa, Tantangan Tak Bisa Diabaikan
Namun, tantangan konsumsi sayur di Indonesia masih besar. Rata-rata masyarakat masih jauh dari standar minimal konsumsi sayur yang direkomendasikan WHO, yaitu 400 gram per hari. Rendahnya konsumsi ini dipengaruhi oleh faktor ketersediaan, keterjangkauan, hingga budaya yang sering kali menganggap sayur hanya sebagai pelengkap makanan.
Di sinilah MBG berperan penting sebagai titik balik. Program ini harus memastikan ketersediaan sayur yang beragam dan segar, menghadirkannya dengan harga terjangkau, serta memperkenalkan cara penyajian yang menarik dan dekat dengan budaya lokal.
Edukasi gizi harus dilakukan sejak dini, misalnya melalui pembiasaan di sekolah atau melibatkan anak-anak dalam kegiatan menanam sayur di pekarangan, sehingga mereka tidak hanya terbiasa makan sayur, tetapi juga memahami nilai penting di baliknya.
Baca Juga : Semangat Sumpah Pemuda di Era Validasi
Praktisi kesehatan dr. Wachyudi Muchsin, Sked SH MKes C.Med, menegaskan pentingnya peran sayur dalam program MBG.
“Sayur adalah investasi kesehatan jangka panjang. Jika anak-anak kita terbiasa mengonsumsi sayur sejak dini, maka risiko stunting, obesitas, hingga penyakit degeneratif di masa depan bisa ditekan. MBG adalah momentum strategis untuk membangun budaya makan sehat berbasis pangan lokal yang murah, bergizi, dan mudah diakses,” ujarnya.
Visi Indonesia Sehat 2045 tidak akan tercapai tanpa revolusi pola makan. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, memperbaiki kebiasaan konsumsi gizi melalui MBG adalah langkah strategis untuk membentuk generasi emas yang kuat secara fisik, sehat secara mental, dan siap menghadapi tantangan global.
Menjadikan sayur sebagai menu utama MBG berarti menanam investasi kesehatan jangka panjang bagi bangsa. Dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, dan daya tahan yang tangguh, anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi lokomotif pembangunan yang membawa negeri ini menuju Indonesia Emas 2045.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
