Sphephelo Sithole, Pemain Pertama yang Diusir di Piala Dunia 2026
HARIAN.NEWS, JAKARTA – Piala Dunia 2026 baru seumur jagung, namun sebuah rekor kelam sudah tercipta. Gelandang tim nasional Afrika Selatan, Sphephelo Sithole, secara resmi mencatatkan namanya sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah langsung di edisi kali ini.
Baca Juga : 3 Kartu Merah di Laga Pembuka Piala Dunia
Insiden itu terjadi dalam laga pembuka Grup A antara Meksiko vs Afrika Selatan di Stadion Azteca, Kota Meksiko, Kamis (11/6/2026) waktu setempat atau Jumat dini hari WIB.
Awalnya pertandingan berjalan sengit. Namun pada menit ke-49, wasit asal Brasil, Wilton Pereira Sampaio, menghentikan permainan. Setelah berkonsultasi dengan VAR, ia mengeluarkan kartu merah langsung untuk Sithole.
Apa penyebabnya?
Dilansir dari Fox Spots, pelanggaran DOGSO (Denial of an Obvious Goal-Scoring Opportunity) atau menggagalkan peluang mencetak gol yang jelas.. Pemain Meksiko, Brian Gutierrez, berhasil lolos dan berlari bebas menuju gawang. Sithole yang berusaha mengejar akhirnya menjatuhkannya dengan tekel dari belakang.
Baca Juga : Siap Begadang? Piala Dunia 2026 Mulai 02.00 WIB
Wasit tak memberi ampun. Protes pun pecah dari kubu Afrika Selatan, tetapi keputusan tetap mutlak setelah VAR mengonfirmasi pelanggaran tersebut memenuhi unsur DOGSO.
Bukan cuma satu kartu merah. Wasit Wilton Sampaio juga mengusir Themba Zwane (Afrika Selatan) di menit ke-84 karena perilaku tidak sportif, serta César Montes (Meksiko) di injury time babak kedua. Total tiga kartu merah dalam satu pertandingan pembuka!
Siapa Sphephelo Sithole?
Baca Juga : Timnas Iran Bertolak ke Meksiko, 14 Staf Masih Tertahan Masalah Visa AS
Di balik rekor buruk itu, Sithole sejatinya adalah pilar penting lini tengah Bafana Bafana. Lahir di Durban, 3 Maret 1999, pemain berposisi gelandang bertahan ini mengasah kemampuan di akademi Sporting CP (Portugal) sebelum membela Belenenses SAD dan kini Tondela.
Ia dikenal memiliki visi umpan yang baik serta keganasan dalam merebut bola. Sayangnya, keganasan itu kini berbuah kartu merah bersejarah yang tak diinginkan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
