HARIAN.NEWS – Hasil penghitungan cepat dari berbagai lembaga survei kredibel pada Pemilu 2024, akan segera menunjukkan kepastian siapa yang diberi mandat untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Keputusan final ini merupakan bentuk penghormatan kepada rakyat yang telah berkontribusi pada proses demokrasi. Dari rakyat kepada rakyat. Bukan ajang untuk euforia dan senang-senang bagi siapa pun yang terpilih, karena ada tanggung jawab besar menanti.
Meraih kesuksesan identik dengan kerja keras. Banyak energi tercurahkan, dan harus setimpal hasil yang akan dicapai. Apa yang dilakukan serta dijanjikan pada program yang ditulis dan disampaikan ke Komisi Pemilihan Umum harus diimplementasikan.
Baca Juga : Pengamat Nilai Deklarasi Dini Capres Gerakan Rakyat Picu Efek Domino Parpol Jelang Pilpres 2029
Janji ini wajib diwujudkan secara konkret. Ibarat berhutang kepada rakyat, harus dibayar dengan pengejawantahan program serta manfaat langsung bagi masyarakat itu sendiri. Kepercayaan membuahkan kemenangan, maka keberhasilan selanjutnya menuntut komitmen kuat dan pertanggungjawaban.
Politik dan demokrasi bermula dari teori kerakyatan. Semua tujuan akhir akan bermuara pada kepentingan masyarakat sendiri. Kemenangan dan keberhasilan yang sesungguhnya adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Bukan keberhasilan partai pengusung maupun kandidat tim pemenangan. Semangat dan sportivitas di atas segalanya, itulah kegemilangan rakyat.
Pemilu (pilpres dan pileg) merupakan sebuah aktivitas mengaktualisasikan dan mengekpresikan diri dalam suasana kebersamaan. Sebuah kontestasi sarat solidaritas untuk kepentingan orang banyak di seluruh nusantara, demi mewujudkan cita -cita luhur bangsa yang adil dan makmur.
Baca Juga : Jokowi Arahkan Relawannya Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode
Apa pun bentuk selebrasi politiknya, nilai dan kultur kekompakan adalah prioritas, tidak tercabik oleh bentuk ekspresi. Kemenangan bukan untuk menggenggam kekuasaan. Kontestasi, praktek dan demokrasi adalah hasil sebuah partisipasi dan semangat kesetiakawanan. Kalah atau menang tidak abadi, sifatnya hanya sementara, datang dan pergi.
Seperti pepatah, “kalah jadi abu menang jadi arang”. Mari menatap ke depan. Membangun dan menjaga semangat gotong royong, kerukunan, persatuan demi bangsa dan negara.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
