Tafsir Bahasa Jawa yang Mengubah Hidup Kartini
Salah satu kontribusi terbesar KH Sholeh Darat adalah kitab Faidh al-Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malik al-Dayyan. Ini adalah tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon.
Baca Juga : 21 April, Mengenang Kartini, Inspirasi Kesetaraan Gender
Apa yang melatarbelakangi penulisan kitab ini?
RA Kartini sendiri yang memintanya. Dalam surat-suratnya, Kartini mengaku “pusing” dengan bahasa Arab dan tidak memahami isi Al-Qur’an yang dibacanya. Padahal saat itu, penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an.
KH Sholeh Darat berani melanggar larangan itu. Ia menulis tafsir dalam huruf Pegon agar tidak dicurigai penjajah.
Baca Juga : Pro Kontra Mantan Presiden RI Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Kitab tersebut dihadiahkan kepada Kartini saat ia menikah dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kartini pun bahagia. Ia mengucapkan:
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang… sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Dari tafsir itulah Kartini menemukan surat Al-Baqarah ayat 257: “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.”
Baca Juga : Kiprah Sukses Firdaus Muhammad: Melihat Jauh Peran Ulama dalam Kancah Politik
Ungkapan “dari gelap menuju cahaya” – dalam bahasa Belanda Door Duisternis Tot Licht – kemudian diterjemahkan Armijn Pane menjadi ” Habis Gelap Terbitlah Terang “, judul buku kumpulan surat-surat Kartini yang fenomenal hingga kini.
Perlawanan Tanpa Angkat Senjata
Berbeda dengan ayahnya yang turun ke medan perang, KH Sholeh Darat memilih jalur perlawanan kultural melalui pendidikan dan literasi.
Baca Juga : Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi Bangga AGH Ambo Dalle Diusul Jadi Pahlawan
Ia melarang umat Islam meniru gaya hidup kolonial. Dalam kitab Majmu’ah al-Syariah al-Kafiyyah lil Awam, ia menulis:
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

