KH Sholeh Darat, Ulama di Balik ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’
HARIAN.NEWS,JAKARTA – Di balik nama besar RA Kartini, KH Ahmad Dahlan, dan KH Hasyim Asy’ari, tersembunyi satu sosok ulama yang menjadi guru sekaligus pembimbing spiritual mereka. Namanya KH Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani, atau lebih dikenal sebagai KH Sholeh Darat.
Baca Juga : 21 April, Mengenang Kartini, Inspirasi Kesetaraan Gender
Ulama kharismatik asal Semarang ini tidak hanya mencetak generasi penerus bangsa. Ia juga meninggalkan warisan intelektual berupa kitab tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa pertama di Nusantara. Kitab itulah yang menginspirasi lahirnya judul terkenal ” Habis Gelap Terbitlah Terang ” dari RA Kartini.
Siapa sebenarnya KH Sholeh Darat? Mengapa jasanya begitu besar bagi bangsa Indonesia?
Dari Jepara ke Makkah: Perjalanan Menimba Ilmu
Baca Juga : Pro Kontra Mantan Presiden RI Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
KH Sholeh Darat lahir di Kedung Cumpleng, Mayong, Jepara, sekitar tahun 1820 M. Ayahnya, KH Umar, adalah kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).
Sejak kecil, Sholeh dididik langsung oleh ayahnya. Ia kemudian berguru kepada sejumlah ulama terkemuka di Jawa, seperti KH Muhammad Syahid di Kajen Pati hingga Sayyid Ahmad Bafaqih di Semarang.
Atas ajakan ayahnya, ia berkelana ke Singapura lalu melanjutkan ke Makkah. Di tanah suci, ia menimba ilmu dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk Syekh Nawawi al-Bantani dan Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.
Baca Juga : Kiprah Sukses Firdaus Muhammad: Melihat Jauh Peran Ulama dalam Kancah Politik
Bahkan, KH Sholeh Darat sempat menjadi mufti di Makkah sebelum akhirnya kembali ke tanah air.
Mendirikan Pesantren Darat, Pusat Pendidikan Para Tokoh Bangsa
Sekembalinya ke Semarang, KH Sholeh Darat menikah dengan putri KH Murtadha dan mendirikan Pondok Pesantren Darat di Kampung Mlayu Darat (kini Dadapsari, Semarang Utara) pada tahun 1870-an.
Baca Juga : Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi Bangga AGH Ambo Dalle Diusul Jadi Pahlawan
Pesantren ini berkembang pesat. Santri datang dari berbagai daerah, mulai dari Kendal, Pekalongan, Rembang, hingga Yogyakarta dan Tremas.
Di pesantren inilah tiga pahlawan nasional berguru langsung kepada KH Sholeh Darat:
– RA Kartini – sebelum dipingit tahun 1892
– KH Ahmad Dahlan– pendiri Muhammadiyah
– KH Hasyim Asy’ari – pendiri Nahdlatul Ulama
Tidak heran jika KH Sholeh Darat dijuluki “Guru Para Ulama Jawa” atau “Gurunya Mahaguru Nusantara”.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

