“Barang siapa meniru gaya-gaya Belanda, maka orang itu sama dengan mereka, termasuk memakai sesuatu benda seperti Belanda, misalnya celana, topi, dan dasi.”
Fatwa ini bukan sekadar soal mode. Ini adalah strategi menanamkan sikap anti-kolonial dan membangun kesadaran nasionalisme.
Baca Juga : 21 April, Mengenang Kartini, Inspirasi Kesetaraan Gender
Melalui ajaran tasawufnya, ia juga memasukkan kritik terhadap “pelayan kezaliman” – termasuk pegawai kolonial yang memungut pajak dari rakyat kecil.
Karya Intelektual yang Mendunia
KH Sholeh Darat diperkirakan menulis sekitar 40 kitab. Sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Pegon agar mudah dipahami masyarakat awam.
Baca Juga : Pro Kontra Mantan Presiden RI Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Karyanya yang paling terkenal:
| Judul Kitab | Bidang |
|---|---|
| Faidh al-Rahman | Tafsir Al-Qur’an bahasa Jawa |
| Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam | Fikih dan akidah |
| Al-Hikam (terjemahan) | Tasawuf |
| Fasholatan | Tuntunan shalat |
Syarah Al-Hikam karyanya bahkan dicetak berkali-kali di Mesir, Bombay, dan Singapura. Kitab ini juga dipelajari oleh orang Arab – bukti bahwa kualitas intelektual KH Sholeh Darat diakui hingga mancanegara.
Wafat dan Upaya Menuju Pahlawan Nasional
Baca Juga : Kiprah Sukses Firdaus Muhammad: Melihat Jauh Peran Ulama dalam Kancah Politik
KH Sholeh Darat wafat pada 28 Ramadhan 1321 H atau 18 Desember 1903 M dalam usia 83 tahun. Ia dimakamkan di TPU Bergota, Semarang.
Setiap tahun, masyarakat menggelar haul dan kirab budaya untuk memperingati jasanya.
Saat ini, Pemerintah Kota Semarang bersama PCNU terus mengusulkan KH Sholeh Darat mendapat gelar Pahlawan Nasional. Berkas usulan telah dikirim ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Baca Juga : Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi Bangga AGH Ambo Dalle Diusul Jadi Pahlawan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

