Logo Harian.news

Kiprah Sukses Firdaus Muhammad: Melihat Jauh Peran Ulama dalam Kancah Politik

Editor : Rasdianah Sabtu, 27 April 2024 21:47
Deng Ical beri selamat Prof Firdaus Muhammad, Rabu (24/4).
Deng Ical beri selamat Prof Firdaus Muhammad, Rabu (24/4).

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Nama Firdaus Muhammad bukanlah nama yang asing, khususnya bagi yang berkancah luas di dunia politik Sulsel dan Makassar pada khususnya. Namanya sebagai pengamat politik sering kali wara-wiri di berbagai media, baik cetak maupun online.

Ia biasanya begitu humble dan terbuka pada semua awak media yang meminta pandangannya tentang kondisi politik terkini. Beberapa hari yang lalu, dosen politik di UIN ini, hadir berbeda. Ia mengenakan setelan baju pengukuhan guru besar, dengan kombinasi warna hitam dan kuning.

Pria kelahiran Wajo ini, memang sedang dikukuhkan sebagai guru besar UIN Alauddin Makassaar, dengan memakai toga khas pengukuhan sarjana, begitu juga Firdaus Muhammad hadir dalam podium UIN dan berdiri menerima dengan resmi gelar professor yang telah Ia perjuangkan.

Baca Juga : Refleksi Politik Nasional 2025: Koalisi Besar, Manuver Elite Tak Pernah Usai

Dalam pengukuhan tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar mengukuhkan tiga guru besar, salah satunya tak lain adalah Firdaus Muhammad. Ia memang dikenal sebagai figur yang lekat dengan dunia politik, agama dan pendidikan.

“Saya berbahagia karena melihat sekampung saya dan keluarga saya Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad, MA telah berhasil mendapatkan gelar professor,” kata Prof Andi. M Faisal Bakti, yang ikut menyaksikan pengukuhan, Rabu (24/4/2024).

Dalam tulisan yang mengantarkan Firdaus sebagai guru besar, Firdaus memaparkan rekam jejak ulama-ulama di Sulawesi Selatan dan Barat dalam satu dekade terakhir ini di dunia politik.

Baca Juga : Mutasi Bukan Sekadar Pindah Jabatan: Refleksi Akademik atas Dinamika Pemerintahan yang Sehat di Takalar

“Keterlibatan ulama dalam kancah politik menarik dikaji, mengingat posisi ulama diniscayakan untuk menjadi pengayom umat dalam soal sosial keagamaan dan politik kebangsaan. Namun di sisi lain, realitas menunjukkan adanya kecenderungan ulama justru masuk dalam arena politik praktis,” papar Dosen Komunikasi Politik tersebut.

Realitas inilah acap kali dipahami sebagai tindakan yang paradoks.

“Namun alasan sebagian ulama masuk dalam kancah politik praktis termasuk menjadi pendiri atau pengurus partai, semata-mata untuk memberi kontribusi agar kekuasaan tidak disalahgunakan yang berakibat pada kesengsaraan rakyat,” ujar lulusan S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Baca Juga : Sambut Pemilu 2029, Munafri Mulai Siapkan Mesin Politik Golkar

“Namun niat baik sebagian ulama yang memiliki ijtihad politik bergabung dalam politik praktis ternyata menghadapi persoalan pelik. Firdaus mencontohkan, seorang kiai kharismatik dengan pengikut fanatik dalam soal keagamaan, namun ketika sang ulama berkiprah dalam partai, justru perlahan ditinggalkan jamaahnya karena dianggap inkonsisten atau tidak istiqamah,” lanjut Firdaus.

Sirkulasi komunikasi politik ulama politik masih diwarnai fragmentasi antarulama sendiri yang berkompetisi berebut pengaruh, sehingga melahirkan polarisasi di kalangan umat selaku masyarakat pemilih atau konstituen.

“Ulama politik meyakini dirinya memiliki kemampuan mengelola kekuasaan yang memperkuat dorongan berpolitik karena memiliki basis massa yang jelas,” kata pria kelahiran 1976 ini.

Baca Juga : Fraksi PKB Kota Makassar Gelar Program Pendampingan Studi untuk Mahasiswa Konstituen

Namun nyatanya, hal inilah yang justru kemudian melahirkan fragmemntasi dan konflik internal partai yang berkepanjangan. Hal ini mencerminkan pola komunikasi politik ulama tidak efektif untuk membangun jaringan politik yang signifikan.

Realitas politik ulama tersebut hendaknya diselaraskan dengan idealitas teori komunikasi politik.

“Bahwa tujuan komunikasi politik pada umumnya adalah untuk meraih kekuasaan, materi dan pengaruh,” ujarnya.

Komunikasi politik ulama, baik sebagai secara individual, atau sebagai praktisi partai, hendaknya ditempuh guna meraih kekuasaan, materi dan pengaruh politik terhadap penguasa demi kemaslahatan umat.

Pemikiran-pemikiran Firdaus dalam karyanya, tidak hadir begitu saja. Sebagai anak yang terlahir dari keluarga petani, sosok Firdaus terbilang cukup gigih dalam mengejar pendidikannya.

Maka tak heran jika Ia akhirnya sampai di gelar Guru Besar. Ia merupakan lulusan Madrasah Aliyah Pesantren An-Nahdlah. Pendidikannya yang kental dengan Islam, membuatnya tak jauh-jauh mengambil pendidikan yang juga Islam, hal ini lah yang membuatnya melanjutkan S1-nya di UIN Alauddin Makassar pada tahun 1999.

Tak sampai di S1, Firdaus kemudian mengambil S2 di UIN Raden IntanBandar Lampung tahun 2003 lalu. Firdaus memang seorang pembelajar, hal inilah yang membuatnya kembali membuatnya mantap melanjutkan S3di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selalu merasa tidak cukup dengan ilmu yang Ia peroleh, dosen yang dikenal dekat dengan mahasiswanya ini, pada Rabu (24/4/2024) lalu dikukuhkan menjadi seorang guru besar UIN Alauddin Makassar.

Firdaus berharap, gelar yang saat ini diperoleh bisa bermanfaat untuk orang dalam lain, khususnya di UIN Alauddin Makassar.

Profil Singkat Firdaus Mihammad

Nama : Prof. Dr. H. Firdaus Muhammad, MA
TTL : Paselloreng, Wajo, 20 Februari 1976
Pekerjaan : Dosen UIN Alauddin Makassar

Pendidikan:

  • SD INpres 237 Longka, Wajo (1989)
  • Madrasah Ibtidaiyah Pesantren Asadiyah Wajo (1989)
  • Madrasah Tsanawiyah Pesantren Asadiyah Wajo (1992)
  • Madrasah Aliyah Pesantren An-Nahdlah (1995)
  • S1 UIN Alauddin Makassar (1999)
  • S2 UIN Raden IntanBandar Lampung (2003)
  • S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008)

Pekerjaan:

  • Dosen Komunikasi Politik Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar
  • Pimpinan II Pesantren An-Nahdlah Makassar

Karya (Buku):

  • Transformasi Paradigma Pemikiran dan Gerakan Sosial, Politik NU (2003)
  • Komunikasi Politik Elite NU Pasca Orde Baru (2008)
  • Ulama Politik dan Politik Ulama (2012) 4. Komunikasi Politik Islam (2013)
  • Jurnalisme Profetik (2014)
  • KH. Muh. Harisah AS: Mewariskan Pesantren (2015)
  • Anregurutta Literasi Ulama Sulselbar (2017)
  • Setia di Jalan Dakwah; 80 Tahun KH. Sanusi Baco (2017)
  • Kisah dan Hikmah KH. Sanusi Baco (2018)
  • Strategi Caleg Sukses (2019)
  • Cahaya Cinta: Kisah Inspiratif Nur Maulana (2019)
  • Keabadian Cinta Ibu (2020)
  • Komunikasi Dakwah KH. Sanusi Baco (2021)
  • Ulama Salemo dan Jejak Keulamaan Pangkep (2021)
  • Jalan Jiwa Prof. Dr. KH. Najmuddin (2022)
  • Komunikasi Politik: Perspektif Komunikasi Islam (2022)
  • Satu Abad Komunikasi Politik NU (2023)
  • Proses Kreatif Penulis Makassar Jilid 1 dan 2 – Editor (2023)
  • Komunikasi Politik Taufan Pawe (2023)
  • Komunikasi Politik Dani Pomanto (2024)
(NURSINTA)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda