Logo Harian.news

Opini

Menata Pembangunan Sulawesi Selatan

Editor : Redaksi Selasa, 30 Agustus 2022 10:46
Haris Zaky Mubarak, MA
Haris Zaky Mubarak, MA

Oleh : Haris Zaky Mubarak, MA
Analis dan Eksekutif Jaringan Studi Indonesia

PERTUMBUHAN ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada triwulan II-2022 mengalami peningkatan yang berarti. Tercatat Provinsi Sulsel mengalami pertumbuhan sebesar 8,38 persen jika dibandingkan dengan triwulan I-2022 (q-to-q).

Hal itu berdasarkan data statistik Badan Pusat Statistik (BPS), secara q to q, pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulsel pada triwulan II-2022 mengalami kenaikan dibandingkan triwulan I-2022 yang dapat tumbuh sebesar 8,38 persen. Bahkan ini menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi secara tri wulanan sejak tahun 2018. (BPS, 2022).

Baca Juga : Cegah Kanker Serviks Melalui Vaksin HPV Sejak Dini

Secara teknis, pertumbuhan ekonomi diacu berdasarkan hasil Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2022 mencapai Rp151,34 triliun dan dasar harga konstan 2010 telah mencapai Rp. 90,35 triliun. Dalam acuan laporan dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI), ekonomi Provinsi Sulsel pada triwulan II-2022 dibandingkan triwulan II-2021 tumbuh 5,18 persen (y on y).

Sepanjang semester 1 2022, ekonomi Sulsel faktanya mengalami pertumbuhan yang signifikan yakni sebesar 4,74 persen (c-to-c). Provinsi Sulsel dengan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022 tersebut, berkontribusi 3,20 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Rasionalitas ini jelas perlu diapresiasi.

Karena memberi dukungan yang positif bagi pertumbuhan sekaligus langkah rasional dalam pemulihan ekonomi. Faktor yang paling berpengaruh dalam memacu pertumbuhan ekonomi di Sulsel ada pada sektor perdagangan, industri pengolahan dan transportasi.

Baca Juga : PLN Libatkan Kejaksaan Tinggi Sulsel dalam Menangani Kendala Listrik Masa Depan

Kontribusi pada masing – masing sektor ini adalah 15, 10 persen, 12, 50 persen. Dalam tinjauan lebih lanjut, nilai pertumbuhan perdagangan mampu tumbuh sebesar 9, 82 persen (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh sebesar 7, 83 persen 9yoy). Tingginya konsumsi selama bulan suci Ramadan dan Peringatan Idul Fitri menjadi momentum penting atas naiknya aktivitas ekonomi masyarakat Sulsel.

Optimalisasi Potensi

Pertumbuhan ekonomi merupakan kunci dari tujuan ekonomi makro. Hal ini didasari oleh tiga hal. Pertama, penduduk selalu bertambah. Bertambahnya jumlah penduduk ini berarti angkatan kerja selalu bertambah. Pertumbuhan ekonomi akan mampu menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja.

Baca Juga : OJK: Realisasi Kredit UMKM di Sulsel Tumbuh Pesat, Didominasi Usaha Mikro Sebesar Rp 33,77 Triliun

Jika pertumbuhan ekonomi yang mampu diciptakan lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja, hal ini mendorong pengangguran. Kedua, selama keinginan dan kebutuhan selalu tidak terbatas, perekonomian harus selalu mampu memproduksi banyak barang dan jasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut.

Ketiga, usaha rasional dalam menciptakan kemerataan ekonomi (economic stability) melalui retribusi pendapatan (income redistribution) lebih mudah dicapai dalam pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Tingginya peran konsumsi dalam menunjang aktivitas pertumbuhan ekonomi lokal menunjukkan jika aspek konsumsi menjadi sektor yang paling potensial dalam mendorong stabilitas pertumbuhan baik secara makro dan mikro. Hal ini pun menjadi fundamen yang tak terbantahkan karena faktanya lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) berasal dari konsumsi.

Baca Juga : Nasdem Sodorkan 28 Nama Bacakada di Sulsel, Berikut Daftarnya

Tingkat konsumsi secara langsung telah berkaitan erat dengan kemiskinan dan pengangguran. Sebagian besar pendapatan masyarakat Indonesia digunakan untuk konsumsi terutama pengeluaran makanan, dan sebagian kecil yang digunakan untuk non- makanan.

Potensi konsumsi dalam sektor makanan inilah yang secara rasional telah bergerak untuk memajukan ruang kesejahteraan di Sulsel. Dalam data BPS Provinsi Sulsel, komposisi jenis industri makanan, minuman, dan tembakau di Sulsel dalam kisaran 200 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 5000 orang (BPS Sulsel, 2021).

Penyerapan tenaga kerja terbesar kelompok industri besar sedang adalah pada industri kayu dan galian bukan logam, yaitu masing-masing sebanyak 6000 orang. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemajuan industri ini antara lain pada soal kualitas sumber daya manusia pada bidang usaha kecil dan mikro yang masih rendah, tingkat kesejahteran masyarakat lokal yang rendah, modal usaha yang masih belum tersedia, kurangnya pemerintah terhadap pengembangan usaha, serta strategi pemasaran terhadap jenis usaha yang masih belum memadai menjadi sederet tantangan bagi industri pengolahan di Sulsel.

Sulsel dengan ibukota Makassar memiliki potensi dan peluang yang sangat besar bagi pengembangan industri perikanan menjadi sentra industri perikanan terbesar yang ada di Kawasan Timur Indonesia. Secara geografis, hal ini didukung oleh letak Kota Makassar yang merupakan satu kota terbesar dan merupakan pintu gerbang kawasan timur Indonesia, dan otomatis potensi ini menjadi pintu gerbang ekspor hasil perdagangan secara umum. Bila hal ini dimaksimalkan maka bukan mustahil Sulsel menjadi Provinsi utama Indonesia dalam mendukung ketahanan industri pengolahan perikanan di Indonesia.

Strategi Pembangunan

Pemantapan stabilitas ketahanan konsumsi di wilayah Sulsel secara taktis dapat dilakukan melalui langkah stategis yang melihat secara detail segala macam potensi rasional yang berkembang dalam sumber daya ekonomi lokal di Sulsel.

Diantaranya melalui aktivitas peningkatan ketersediaan komoditas di tingkat rumah tangga dengan mengembangkan komoditas lokal sesuai potensi sumberdaya dan pola konsumsi setempat. Selain itu peningkatan produktivitas komoditas melalui akselerasi arah pemanfaatan teknologi sesuai kapasitas sumberdaya manusia setempat.

Dalam pengembangan lebih lanjut, pembinaan dan pendampingan secara intensif dan berkelanjutan pada program-program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia di wilayah lokal.

Selain itu penguatan jejaring kerja dan komitmen pemangku kepentingan terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan ketahanan pangan rumah tangga. Selain itu, luas jangkaun geografis Provinsi Sulsel membuat ruang pemenuhan konsumsi sering menjadi terhambat karena minimnya fasilitas lengkap dalam hal sarana transportasi yang mengangkut segala macam bentuk komoditas lokal.

Pembangunan infrastruktur yang baik tentu akan menjamin efisiensi, memperlancar pergerakan barang dan jasa, dan meningkatkan nilai tambah perekonomian. Ketersediaan infrastruktur merupakan faktor pendorong produktivitas daerah. Keberadaan infrastruktur seperti jalan raya dan jembatan mampu membuka akses bagi masyarakat melaksanakan aktivitas ekonomi.

Tak kalah penting adalah penataan secara komprehensif terhadap sektor teknologi ekonomi digital karena di Provinsi mulai terjadi pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi Sulawesi Selatan dapat dilihat dari tingginya penetrasi penggunaan internet di Sulsel. Pada 2021, hampir 45 % industri rumah tangga di sulsel digerakkan secara online. (Bank Indonesia Sulsel, 2021)

Terakhir langkah rasional yang perlu dimajukan dalam mendukung asa stabilitas pertumbuhan ekonomi Sulsel adalah soal daya saing provinsi untuk memaksimalkan kuatnya jejaring pelaku ekonomi dan inovasi atas industri usaha yang dijalankan.

Dalam pembangunan ekonomi kawasan Indonesia Timur, Provinsi Sulsel memang memiliki akses distribusi yang strategis untuk dapat mendistribusikan segala komoditas untuk kepentingan ekonomi di kawasan Indonesia timur. Namun nilai ekonomi tinggi ini harus disesuaikan dengan tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan. Masih banyaknya kasus korupsi dilingkungan pemerintahan Sulsel membuat tekanan daya saing ekonomi secara makro menjadi cukup terhambat.

Disinilah pentingnya peranan dari pembangunan (development) dalam menghasilkan pertumbuhan (growth) (Meier, 1989). Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi tak hanya mencatat peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional, tapi juga implementasi pembangunan yang berdimensi secara luas. Pembangunan ini diarahkan mencapai tujuan penting, yaitu mencapai pertumbuhan (growth), pemerataan (equity), dan keberlanjutan (sustainability).

Lebih mendalam, daya saing pembangunan inilah yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam kapasitas sumber daya manusia (human capital), peralatan (man made recources) dan sumber daya alam (natural resources) untuk meningkatkan kegiatan produktif dalam banyak lini kehidupan masyarakat.

Atas dasar itulah, dibutuhkan intensitas keterpaduan antar potensi sumber daya manusia dan pemanfaatan sumber daya alam dengan menyelaraskan perkembangan kemajuan teknologi secara efisien dan efektif sehingga dapat menambah produktivitas nilai ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news atau Whatsapp 081243114943

Follow Social Media Kami

KomentarAnda