HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Hawa panas yang menyeruak di sepanjang jalan menuju pesisir Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar sungguh menguras energi. Siang itu, Minggu (25/10/2026) matahari seakan berada persis di atas kepala. Cahaya silaunya memicingkan mata hingga membuat padangan sedikit kehilangan kontras.
Persis di Jl. Sande Blok D No. 42, Kampung Nelayan, deru mesin pencacah plastik terdengar nyaring. Ada beberapa orang yang berkerumun di sumber suara. Saat mendekat, terlihat seorang pria sedang sibuk memilah sampah plastik di kolong rumah warga.
Baca Juga : Bentangan Rumput Laut, Tumpuan Hidup 400 Warga Pesisir Bulu Cindea
Ruangan itu berukuran kira-kira 8×6 meter. Di dekat pintu masuk, tumpukan sampah plastik berserakan. Di bagian tengah ruangan, plastik warna-warni (mirip karton) dan lembaran papan sintetis disusun tak beraturan. Lalu, di ruangan paling ujung tepatnya 35 derajat dari pintu masuk, berdiri 4 mesin besar. Disanalah Rusandi (43) mendaur asa dari sampah plastik.

Rusandi (43) sedang mendaur sampah plastik. Tutup botol bekas dimasukkan ke dalam mesin cacah. (Dok. Gita/HN)
Rusandi adalah karyawan Rappo Indonesia yang bertanggung jawab mendaur ulang sampah plastik menjadi produk bernilai jual seperti mebel. Ia telah bekerja sejak tahun 2024. Tiap hari, pesanan yang datang dari komunitas hingga perusahaan besar dikerjakannya bersama warga pesisir yang bermukim di sana.
Baca Juga : Mahalini hingga Fiersa Besari Siap Meriahkan Spektamagis Vol. 3 di Makassar
”Bersyukur karena kami di daerah pesisir sudah punya penghasilan tetap dari daur ulang sampah berkat Rappo Indonesia dan PLN,” ucapnya kepada harian.news sambil mengangkat tumpukan tutup botol bekas di dalam keranjang menuju mesin cacah.
Rusandi bercerita, sebelum Rappo datang dan bantuan PLN menyentuh warga pesisir, ia hanya seorang pekerja serabutan. Penghasilannya pas-pasan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah dua anaknya sangat sulit. ”Berat sekali kalau diingat masa lalu,” tuturnya dalam logat Makassar.
Namun, kehidupannya berubah saat menerima tawaran pelatihan mebel dari Rappo Indonesia. Rusandi tak menyia-nyiakan kesempatan. Dan dari situ, ia pelan-pelan bangkit.
Baca Juga : Sulawesi Berlian Motor Boyong Mobil Andalan di GIIAS Makassar
Setelah tiga bulan menjalani pelatihan intensif, ia langsung bekerja. Dampaknya, perekonomian Rusandi mulai stabil dan pelan-pelan mewujudkan keinginan menabung dan menyekolahkan anak. ”Alhamdulillah sudah ada kepastian, dan ada kelebihan untuk kebutuhan rumah tangga dan segala macamnya.”
Tak sampai di situ, perjalanan Rappo Indonesia dalam mengolah limbah plastik dan melibatkan warga pesisir untuk berdaya tidak lepas dari uluran tangan PT PLN UID Sulselrabar. Di awal pendiriannya, proses produksi mebel dan souvenir dari limbah plastik dilakukan secara manual.
”Dulu, untuk mengeringkan atau memanaskan material, kami mengandalkan oven manual yang dihubungkan ke gas LPG. Kapasitasnya terbatas. Tapi berkat bantuan mesin dari PLN, kami bisa lebih praktis mengolah sampah plastik. Lebih cepat dan aman,” jelasnya.
Baca Juga : BYD Andalkan M6 EV dan M6 DM untuk Garap Pasar SUV di GIIAS Makassar
Rusandi menjelaskan, bantuan yang disalurkan PLN berupa mesin cacah berukuran besar kira-kira 65 cm x 90 cm x 130 cm. Mesin ini digunakan untuk menghancurkan plastik menjadi butiran kecil. Lalu, mesin oven atau mesin pres otomatis bersuhu tinggi ukuran 1×1 meter, hingga mesin khusus untuk mencetak aksesoris seperti gantungan kunci.
“Kalau sekarang sudah bagus, pakai listrik mi juga, aman juga listriknya,” kata Rusandi menceritakan efisiensi kerja saat ini. Penggunaan mesin otomatis bertenaga listrik dari PLN tidak hanya mendongkrak kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan standar keamanan dan kenyamanan kerja yang lebih baik bagi para perajin.
Lokasi daur ulang sampah plastik Rappo bernama ”Rappo Impact Center”. Di sini, bahan baku yang diolah bersumber dari kepedulian lingkungan sekitar mulai dari kerjasama bank, pengepul, perusahaan, penyelenggara event di Kota Makassar hingga warga pesisir Untia juga terlibat dalam mengumpulkan sampah plastik.

Mesin pres berukuran 1×1 meter yang digunakan untuk melelehkan plastik menjadi lembaran plastik mirip karton dan papan plastik untuk membuat kursi dan meja. (Dok. Gita/HN)
Dalam sebulan, Rappo mendaur ulang sebanyak 50 – 100 kilogram sampah plastik menjadi furnitur seperti meja, kursi, tas, jam dinding, gantungan kunci dan berbagai macam lainnya.
Mula-mula, sampah plastik itu dicacah menggunakan mesin, lalu disulap menjadi panel furnitur berukuran 1×1 meter. Setelah kering, panel itu diolah menjadi berbagai barang sesuai kebutuhan pelanggan. Meskipun saat ini Rusandi menjadi motor penggerak utama di bagian mebel, namun aktivitas ini turut memberdayakan warga sekitar terutama kaum perempuan.
”Jadi mereka bekerja secara freelance. Ada yang bertugas membersihkan tutup botol dan melepaskan label kemasan. Ada juga yang bertugas menjahit barang pesanan ramah lingkungan,” tutur Rusandi.

Kursi dan meja hasil daur ulang sampah plastik. (Dok. Gita/HN)
Sinergi yang dibangun oleh Rappo Indonesia dengan PLN UID Sulselrabar kini ini menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang inklusif di kawasan pesisir. Rusandi berharap, kolaborasi ini tetap berlanjut hingga mereka benar-benar bisa mandiri.
”Kalau bisa, PLN makin sering bikin pelatihan. Dan memberikan bantuan untuk kami di sini, warga pesisir. Kami mau ji bekerja. Asal diarahkan sampai bisa berdiri sendiri,” pungkasnya.
Ikut Berdayakan Perempuan Pesisir
Bantuan yang diberikan PLN UID Sulselrabar tak berhenti di tangan Rusandi, perempuan pesisir seperti Jumiati (50) ikut diberdayakan. Di usianya yang sudah mencapai setengah abad, perempuan asal Makassar ini tak menyangka bisa menemukan keterampilan baru dalam hidupnya. Jumiati bertransformasi dari ibu rumah tangga (IRT) menjadi penjahit mandiri yang kini meraup penghasilan lebih untuk keluarga.
Jumiati bilang, sebelum mengenal Rappo Indonesia, hari-harinya hanya diisi dengan pekerjaan sebagai IRT. Hanya mengandalkan nafkah dari sang suami. Soal urusan jahit-menjahit? Ia mengaku benar-benar “buta”. ”Saya benar-benar ’buta’. Tidak tahu apa-apa soal menjahit.”
Namun, setelah direkrut dan diberi pelatihan intensif selama kurang lebih tiga bulan, Jumiati akhirnya bisa menyulap sampah plastik menjadi souvenir yang bernilai jual. Ia kini mahir menjahit berbagai produk berkualitas tinggi yang disodorkan oleh pihak Rappo, seperti wristlet hingga tas laptop.

Jumiati (50) memperlihatkan hasil karyanya. Di belakangnya, tumpukan tas laptop dan buku hasil olahan sampah plastik. (Dok. Gita/HN)
”Dalam sehari, saya bisa menjahit ratusan pesanan. Modelnya bermacam-macam, ada tas laptop, wristlet dan banyak lagi sesuai pesanan,” tuturnya. Prosesnya sendiri lanjut Jumiati, lebih praktis. Setelah sampah plastik di pres otomatis menggunakan mesin berukuran 1×1 (oven besar bantuan PLN). Maka lanjut digunting sesuai ukuran dan dijahit menjadi tas laptop. ”Semudah itu.”
Kata Jumiati, sejak bantuan mesin dari PLN datang, mereka lebih mudah membuat kerajinan. Sehingga pekerjaan tidak memakan waktu yang lama sehingga berdampak pada kepercayaan pelanggan. ”Dulu beberapa kali kami keteteran karena pesanan membludak. Dan oven yang digunakan manual. Sangat menyita waktu. Tapi berkat bantuan PLN, pekerjaan lebih mudah, cuan juga lebih banyak.”
Jumiati berharap, uluran tangan PLN UID Sulselrabar bisa terus dirasakan perempuan pesisir agar mereka tetap berdaya dan lebih banyak perempuan yang terlibat.
Berangkat dari Kesamaan Visi
Kesamaan visi Rappo Indonesia dan PLN UID Sulselrabar mempertemukan mereka. Penanganan isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi latar belakang kedua perusahaan itu menjalin kerja sama.
Operational and Production Officer Rappo Indonesia, Inri Ainur mengatakan, kolaborasi ini diwujudkan melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir di Kelurahan Untia, Kota Makassar, yang didukung lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli.
”Sinergi ini lahir sebagai respons atas dua tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini, yaitu krisis sampah plastik dan kerentanan sosial-ekonomi di wilayah pesisir,” ucapnya.
Di Makassar, timbulan sampah tercatat sekitar 1.034,48 ton hingga 1.036 ton per hari, atau setara dengan sekitar 1.000 ton per hari menurut data terbaru dari Pusdalops Sulawesi Selatan. Lalu, data KLH/BPLH tahun 2025/2026, timbulan sampah untuk kawasan Makassar Raya mencapai 1.644 ton per hari, di mana Kota Makassar sendiri menyumbang 1.034 ton per hari.
Sementara dari sisi sosial-ekonomi, tingkat kemiskinan ekstrem nasional di wilayah pesisir masih berada di angka 12,5 persen atau setara dengan 1,3 juta jiwa. Khusus kota Makassar, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan umum pada tahun 2024 berada di angka 4,97 persen (sekitar 79,53 ribu jiwa). Salah satu pemicu kemiskinan di pesisir, tingginya angka pengangguran serta ketidakpastian pendapatan masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor perikanan.
”Untuk membantu mengatasi masalah sampah di Makassar, Rappo dan PLN menginisiasi pemilihan tempat di Kelurahan Untia sebagai lokasi sasaran program. Langkah ini untuk meningkatkan taraf hidup warga pesisir dengan mengembangkan kerajinan yang berdampak,” jelasnya.

Operational and Production Officer Rappo Indonesia, Inri Ainur sedang memperagakan cara mencetak gantungan kunci. (Dok. Gita/HN)
Wilayah pesisir yang terletak di utara Kota Makassar dipilih sebagai pusat pengolahan sampah plastik yang diberi nama Rappo Impact Center. Sebelumnya, warga pesisir Untia hanya menggantungkan hidup sebagai buruh harian dan nelayan. Tingkat pendapatan mereka sangat rentan terpengaruh oleh cuaca.
”Makanya lewat program ini, PLN dan Rappo Indonesia berupaya membuka lapangan pekerjaan baru yang lebih stabil dengan penghasilan yang konsisten tiap bulannya. Sehingga masyarakat tidak lagi cemas menafkahi keluarga.”
Sebagai langkah awal, PLN memberikan bantuan mesin ke Rappo sebagai alat produksi. Selanjutnya, warga direkrut dalam pelatihan teknis hingga melibatkan warga dalam rantai pasok industri furnitur ramah lingkungan. ”Bantuan yang diberikan mencakup mesin cacah plastik, mesin pres, mesin injeksi, hingga berbagai mesin industrial pendukung pembuatan furnitur.”
Inri bilang, program ini telah menyasar kelompok rentan pesisir yang memiliki keterbatasan akses ke pasar kerja formal, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah. ”Hingga saat ini, Rappo telah mempekerjakan sebanyak 7 warga Untia di bagian furnitur dan 10 perempuan khusus untuk menjahit. Lalu, pekerja freelance melibatkan hampir seluruh warga di pesisir Untia,” tuturnya.
Produk furnitur sendiri dibuat dari olahan sampah plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE) dan Polypropylene (PP) seperti botol plastik bekas. Selanjutnya, untuk menjamin keberlanjutan program agar tidak sekadar menjadi hibah barang, Rappo Indonesia menerapkan strategi offtaker dan inklusi rantai pasok.
”Warga yang telah terlatih diserap sebagai mitra produksi resmi, sementara pemasaran produk ke klien ditangani langsung oleh Rappo Indonesia. Selain itu, pemeliharaan alat secara berkala dan pendampingan harian dipastikan berjalan melalui keberadaan Rappo Impact Center.”

Operational and Production Officer Rappo Indonesia, Inri Ainur memperlihatkan hasil daur ulang sampah plastik. (Dok. Gita/HN)
Bantuan PLN kata Inri, tak sebatas pemberian mesin, PLN juga terlibat dalam mendorong penggunaan furnitur karya warga di ekosistem internalnya. Mempromosikan produk melalui pameran dan media sosial hingga melakukan evaluasi berkala untuk memastikan return on investment (ROI) sosial.
Selama program berjalan, sebanyak 4,59 ton sampah plastik HDPE dan PP berhasil didaur ulang, dengan capaian omset program mencapai Rp200.000.000. Kedepannya, Rappo Indonesia dan PLN berkomitmen mendorong kelompok kerja warga Untia agar mampu mengelola manajemen produksi secara mandiri secara bertahap.
Kemitraan PLN-Rappo Jadi Role Model Usaha Hijau
PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) menjalin kemitraan berdampak bersama Rappo Indonesia sejak tahun 2024. Hal ini disampaikan Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) UID Sulselrabar, Niki Rendra Adisetiawan.
Ia menjelaskan kemitraan PLN-Rappo telah dirancang secara komprehensif dari hilir ke hulu. Total investasi yang dialokasikan PLN untuk kerjasama ini mencapai Rp506 juta. ”Dana investasi ini disalurkan dalam dua tahap. Pertama Rp339 juta dan tahap kedua Rp168 juta,” ucapnya saat ditemui harian.news di Kantor PLN UID Sulselrabar, Kamis (05/11/2026).
Tak hanya itu, Niki juga menjelaskan soal fase keberlanjutan program bersama Rappo. Mulai dari tahap pondasi usaha yang mulai dibangun pada tahun 2024. Tahap ini, PLN menyiapkan sarana produksi, pengembangan workshop, serta pelatihan awal pengolahan sampah plastik menjadi furnitur bagi masyarakat.
”Lalu, tahun 2025 program difokuskan pada penguatan kapasitas produksi sekaligus evaluasi pelaksanaan program. Tahun 2026, program diarahkan pada peningkatan teknologi produksi, pendampingan kualitas produk, hingga perluasan akses pasar melalui merek Rappo Living,” jelasnya.

Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) UID Sulselrabar, Niki Rendra Adisetiawan saat ditemui harian.news di Kantor PLN UID Sulselrabar Jalan Hertasning Makassar. (Dok. Gita/HN)
Terkait strategi keberlanjutan usaha, PLN telah menyiapkan rencana pelepasan secara bertahap (exit strategy) dalam peta jalan (roadmap) hingga tahun 2029. Seiring dengan meningkatnya kemandirian, kapasitas produksi, penguatan branding, dan perluasan pasar Rappo di tingkat nasional, porsi bantuan PLN akan dikurangi secara bertahap.
“Harapannya tahun 2029, PLN yang semula bertindak sebagai pendukung investasi dapat beralih peran menjadi mitra bisnis Rappo.”
Untuk itu, Niki berharap, program ini dapat menjadi contoh pemicu (role model) bagi perusahaan lain maupun organisasi masyarakat untuk mereplikasi langkah serupa. Sinergi ini diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan masalah kesejahteraan masyarakat pesisir, tetapi juga memberi dampak nyata dalam pengurangan limbah plastik di Kota Makassar secara berkelanjutan.
Penulis: Gita Oktaviola
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
