P2G: Libur Ramadhan Berisiko Hambat Capaian Kurikulum
Selain soal UN, P2G turut mengkritisi wacana pemerintah untuk meliburkan sekolah selama Ramadhan. Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, menyebut kebijakan ini berpotensi membawa dampak negatif bagi dunia pendidikan.
Baca Juga : MK Gratiskan Pendidikan Dasar Swasta, Begini Kata Kementerian Pendidikan
“Prinsip utama pendidikan adalah memberikan layanan belajar kepada semua siswa. Libur penuh selama Ramadhan justru akan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari ketertinggalan kurikulum hingga dampak sosial,” ujar Satriwan.
Pertimbangan Penting
Menurut P2G, ada lima hal yang perlu diperhatikan sebelum kebijakan libur Ramadhan diterapkan:
Hak Pendidikan Semua Siswa
Libur Ramadhan bisa menciptakan ketimpangan layanan bagi siswa non-Muslim, sementara siswa Muslim juga kehilangan waktu belajar.
Baca Juga : Perubahan SPMB Dinilai tak Selesaikan Persoalan, P2G: Hanya Berganti Istilah
Kesejahteraan Guru Swasta
Guru di madrasah swasta yang bergantung pada SPP menghadapi risiko pemotongan gaji jika siswa diliburkan selama satu bulan penuh.
Pengaturan Jadwal Belajar
P2G menyarankan modifikasi jam belajar selama Ramadhan, seperti pengurangan durasi jam pelajaran atau kegiatan berbasis spiritual seperti Pesantren Ramadan.
Pengawasan Anak Didik
Libur penuh mengalihkan tanggung jawab pengawasan siswa ke orang tua, yang sering kali tidak memiliki cukup waktu atau kemampuan untuk memantau anak-anak mereka.
Baca Juga : UN Berganti Wajah, Sistem Baru Mulai Diterapkan November 2025
Dampak Sosial
“Waktu libur yang panjang justru berpotensi meningkatkan learning loss, adiksi terhadap gadget, hingga risiko kekerasan remaja seperti tawuran,” jelas Satriwan.
Rekomendasi P2G
P2G mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih fleksibel dan efektif, seperti kombinasi belajar formal dengan kegiatan Ramadhan yang memperkuat nilai-nilai spiritual tanpa mengorbankan capaian kurikulum.
“Ramadhan bisa menjadi momentum penguatan pendidikan karakter. Namun, proses pembelajaran tetap harus berjalan dengan pendekatan yang kreatif dan inovatif,” pungkasnya. ***
Baca Juga : Catatan Hardiknas P2G: Pasca Nadiem Makarim, Mulai Skor Pisa Jeblok hingga Guru Terjerat Pinjol
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
