Logo Harian.news

P2G: Tidak Wajibnya Ekskul Pramuka di Sekolah Sesuai UU Pramuka

Editor : Redaksi Senin, 01 April 2024 22:05
Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim.
Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim.

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Lahirnya Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum Pendidkan Dasar dan Menengah telah menghapus peraturan-peraturan terkait Kurikulum 2013, termasuk Permendikbud Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Kurikulum 2013 mewajibkan ekstrakurikuler (ekskul) Pramuka sebagai ekskul wajib bagi setiap siswa pendidikan dasar dan menengah.

Sekarang, Permendikbud No. 63 Tahun 2014 tersebut dicabut atau dinyatakan tidak berlaku, sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 ttg Kurikulum.

Baca Juga : Heboh Penghapusan Pramuka dari Ekstrakurikuler Wajib di Sekolah

Lalu Pasal 24 dalam Permendikbud ini menyebutkan “Keikutsertaan peserta didik dalam Ekstrakurikuler bersifat sukarela.”

Terus bagaimana jadinya nasib Ekskul Pramuka pasca lahirnya Permendikbud 12/2024 tersebut?

Bagi P2G ada 5 catatan pokok perihal status Ekskul Pramuka yang tidak lagi wajib di sekolah:

Baca Juga : Puskapdik Soroti Penghapusan Pramuka sebagai Ekskul Wajib: Kontradiksi dengan Pendidikan Karakter

Pertama, Ekskul Pramuka menjadi ekskul pilihan alias tak wajib bagi seluruh siswa artinya jika ada siswa yg memilih ikut ekskul Pramuka, sekolah wajib menyediakan ekskul Pramuka.

“Sekolah juga wajib menawarkan Pramuka sebagai salah satu pilihan ekskul bagi siswa, siswa diberi keleluasaan memilih atau tidak,” kata Satriwan Salim, Koordinator Nasional P2G.

Kedua, jika di sekolah / madrasah sudah ada Organisasi GUDEP Pramuka (Gugus Depan) yang eksis, siswa yang memilih ikut Pramuka tentunya akan menjadi Pengurus GUDEP..

Baca Juga : P2G: Makan Siang Gratis Tidak Boleh dari Anggaran Pendidikan

Tetapi sekolah / madrasah tidak boleh lagi mewajibkan seluruh siswa mengikuti ekskul Pramuka, karena sifat organisasi Pramuka adalah sukarela sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 12 Tahun 2010, pasal 20 ayat 1 yang menyebut Gerakan pramuka bersifat mandiri, sukarela, dan nonpolitis.

Ketiga, bagi P2G sebagai negara hukum, tentu kita harus merujuk dan berpedoman kepada aturan yang lebih tinggi yaitu UU Gerakan Pramuka, yang mengatakan bahwa Pramuka adalah kegiatan yang sifatnya sukarela.

“Meskipun ekskul Pramuka sekarang bersifat sukarela, P2G berharap sekolah dan madrasah wajib menawarkan dan menyediakan Pramuka untuk menyalurkan minat dan bakat anak dalam bidang kepanduan,” lanjut Satriwan.

Baca Juga : P2G Sayangkan Isi Debat Capres Minim Solusi Persoalan Fundamental Pendidikan

Satriwan melanjutkan, sebenarnya jika semua stakeholders pendidikan seperti guru, siswa, dan orang tua termasuk masyarakat pada umumnya menginginkan ekskul Pramuka sebagai kegiatan ekskul wajib di sekolah/madrasah, maka Pemerintah harusnya terlebih dulu merevisi UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

“Harusnya dibunyikan dalam UU bahwa Pramuka adalah kegiatan ekskul wajib bagi setiap siswa sekolah dan madrasah”, pungkas guru SMA ini.

“Kalau itu tak dilakukan, keberadaan ekskul Pramuka ya akan lemah selamanya, karena sifatnya yang sukarela alias tak wajib,” lanjutnya.

Keempat, bagi P2G yang lebih mendesak kini dan ke depan adalah bagaimana sekolah / madrasah mampu membangun transformasi kegiatan Pramuka. Mengembangkan ekosistem pembelajaran Pramuka yang menyenangkan, mengembirakan, penuh inovasi, menantang, dan berkualitas bagi siswa. Pramuka tidak lagi dengan pendekatan konvensional, formalistik, dan militeristik.

“Bagaimana agar tidak ada lagi kekerasan, bullying, senioritas, relasi kuasa di semua kegiatan ekskul sekolah seperti Pramuka, Paskibara, atau Pecinta Alam, ini tantangan kita bersama,” ucap Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi P2G.

Iman menjelaskan, kegiatan ekskul tertentu masih diasosiasikan dengan kekerasan, senioritas sehingga peserta didik sebenarnya tidak tertarik mengikutinya.

Kalau sekolah / madrasah sudah mampu menciptakan kegiatan Pramuka yang gembira, humanis, dan menantang jauh dari kekerasan dan senioritas, tentu siswa akan tertarik mengikutinya.

“P2G yakin, kalau Pramuka sudah bertransformasi menjadi ekskul yang fun, menarik, egaliter, anti bullying, maka para siswa pasti akan berbondong-bondong ingin masuk Pramuka. Tanpa diwajibkan negara sekalipun,” lanjut guru honorer ini.

Kelima, P2G meyakini keberadaan setiap kegiatan ekstrakurikuler di sekolah / madrasah adalah sangat urgen dan vital. Bertujuan untuk memfasilitasi dan menggali minat, bakat, dan potensi siswa di bidang apapun. Seperti kepanduan, kepaskibraan, lingkungan hidup, kesehatan, olahraga, seni, budaya, penelitian, digital, dan sebagainya.

Guru, orang tua, dan masyarakat mesti menyadari kembali bahwa kegiatan pembelajaran melalui ekstrakurikuler sebagai wahana strategis untuk membentuk karakter Pancasila bagi para peserta didik dengan pilihan yang rupa warna, ada PRAMUKA, PASKIBRA, PECINTA ALAM, UKS, KIR, PMR, Olahraga, Teater, Digital, Seni Budaya, dan sebagainya.

Sekolah harus mampu mendisain kegiatan ekstrakurikuler yang menarik, bermanfaat, menggembirakan, dan anti kekerasan dalam bentuk apapun.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news atau Whatsapp 081243114943

Follow Social Media Kami

KomentarAnda