OPINI
Oleh : Alimuddin Tiro
[Praktisi Pemerintahan]
Baca Juga : Mengupas Gaya Kepemimpinan Andi Amran Sulaiman
HARIAN.NEWS – Mengutip sejarah Kerajaan Gowa di uraikan : Pada tahun 1320 Kerajaan Gowa terwujud atas persetujuan kelompok kaum yang disebut.
Kasuwiyang-Kasuwiyang dan merupakan kerajaan kecil yang terdiri dari 9 Kasuwiyang yaitu Kasuwiyang Tombolo, Lakiyung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero.
Pada masa sebagai kerajaan, banyak peristiwa penting yang dapat dibanggakan dan mengandung citra nasional antara lain Masa Pemerintahan I Daeng Matanre Karaeng Imannuntungi Karaeng Tumapa’risi Kallonna berhasil memperluas Kerajaan Gowa melalui perang dengan menaklukkan Garassi, Kalling, Parigi, Siang (Pangkaje’ne), Sidenreng, Lempangang, Mandalle dan lain-lain kerajaan kecil, sehingga Kerajaan Gowa meliputi hampir seluruh dataran Sulawesi Selatan.
Baca Juga : Quantum Leap Makassar 2040: Dari Gerbang Menjadi Destinasi Kota Berkelas Dunia
Di masa kepemimpinan Karaeng Tumapa’risi Kallonna tersebutlah nama Daeng Pamatte selaku Tumailalang yang merangkap sebagai Syahbandar, telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf yang disebut Lontara Turiolo.
Pada tahun 1051 H atau tahun 1605 M, Dato Ribandang menyebarkan Agama Islam di Kerajaan Gowa dan tepatnya pada tanggal 9 Jumadil Awal tahun 1051 H atau 20 September 1605 M, Raja I Mangerangi Daeng Manrabia menyatakan masuk agama Islam dan mendapat gelar Sultan Alauddin.
Ini kemudian diikuti oleh Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka dengan gelar Sultan Awwalul Islam dan beliaulah yang mempermaklumkan shalat Jum’at untuk pertama kalinya. Dari sejarah Kerajaan Gowa itu terbentuknya karakter kepemimpinan yang ditunjukkan oleh raja Gowa yang kemudian menjadi pedoman bagi raja dalam menjalankan kepemimpinannya itu yang terdiri atas beberapa.
Baca Juga : KORMI Memaknai Kota Mulia
Pertama, Panrita.
Yang dimaksud dengan Panrita adalah pemimpin yang cerdas dengan bingkai kearifan dalam memutuskan suatu aturan atau kebijakan yang akan diberlakukan. Panrita juga dibekali dengan pengetahuan agama (Islam) yang kuat dengan wawasan yang luas.
To Panrita demikian disebutkan bagi yang mempunyai pengetahuan, orang cerdas dan berpandangan luas dan mengutamakan kearifan dalam menilai sesuatu serta berusaha memberi solusi yang terbaik dan berkeadilan.
Baca Juga : Semangat Sumpah Pemuda di Era Validasi
Kedua, Lambusu na kuntu tojeng.
Maknanya bahwa seorang pemimpin harus bersikap lurus atas apa yang dia katakan, apa yang dia ucapkan, apa yang menjadi pikiran, gagasan dan komitmen untuk dapat dibuktikan. Kebenaran merupakan muara dan salah satu prinsip kepemimpinan orang Gowa. Bahwa pemimpin itu tegak lurus terhadap peraturan dan perundang undangan berlaku. Tidak boleh menyalahi platform yang telah disepakati. Senantiasa menunjang tinggi satunya perkataan dan perbuatan, pada saat yang sama, harus mengambil keputusan betapapun itu sulitnya jika berhadapan dengan kebenaran.
Ketiga, Tubarani.
Orang yang berani dalam mengambil sikap. Tubarani identik dengan kejantanan. Menunjjuk pada sosok pria atau laki laki yang gagah dalam menghadapi keadaan yang tersulit apapun. Bahkan berkorban nyawa demi mempertahankan kebenaran dan prinsip hidup yang dianut oleh orang Gowa, yaitu lebih baik mati berdarah daripada harus bergelimang kehinaan yang dituduhkan kepadanya.
Bahwa fitnah dan tuduhan yang tidak benar itu taruhannya adalah nyawa. Maka dengan itu, berpegang teguh pada prinsip hidup diasosiakan sebagai keberanian dalam arti yang luas. Bukan sekedar jasmani saja tapi juga keberanian dalam memutuskan sesuatu dalam situasi yang genting.
Keempat, Sugi.
Berarti orang yang dermawan. Orang memiliki kelebihan dan suka membagi kelebihan itu kepada siapapun yang membutuhkan. Orang Gowa bukan orang yang pelit. Tidak saja kebendaan tapi keilmuan yang diketahuinya senang membaginya atau mengajarkan kepada orang lain. Di mana pun dan kapan pun orang Gowa menemukan orang sedang mengalami kesulitan, tanpa di minta, pasti akan membantunya.
Keramahan sikap dan ketulusan untuk membantu sesama merupakan ciri yang selalu melekat pada orang Gowa. Ini bukan hikayat tapi merupakan fakta dan data betapa keberanian untuk melanglang buana hanya bermodalkan keramahan dan kedermawanan sehingga selalu dapat bersosialisasi kapan dan di manapun.
Pun ditempat yang ternaug dari kampung halamannya untuk membuka daerah baru yang sama sekali tak berpenghuni yang kemudian diberi nama kampung Mangkasara sebagai salah satu bukti bahwa dimanapun kaki berpijak di situlah kehidupan akan berlanjut.
Kelima, Labo.
Identifikasi diri orang Makassar itu selain dermawan juga suka mentraktir teman teman nya ataupun sejawatnya. Ketika orang Gowa itu punya uang meskipun tidak banyak pasti akan mengajak teman nya untuk makan bersama, misalnya. Ada orang yang sedang punya hajatan, selalu dengan ringan tangan ikut membantunya. Labo adalah perwujudan sikap sosial yang tinggi yang dimiliki oleh orang Gowa. Orang Gowa jauh dari sikap individualistik atau keegoan yang mendominasi dirinya. Itu pasti bukan orang Gowa jika ada bersemayam sikap seperti ini pada dirinya. Benang merah dari lima prinsip kehidupan orang Gowa sesungguhnya manifestasi dari pelaksanaan sila sila dari Pancasila. Pancasila sebagaimana kita pahami bersama merupakan hasil “peramuan” dari karakteristik dari suku bangsa dan budaya nusantara. Sehingga dapat dikatakan bahwa prinsip orang Gowa ini menginspirasi para pendiri negara sehingga disusunlah pedoman hidup bangsa itu berdasarkan bhineka tunggal ika.
Prinsip hidup orang Makassar ini menjadi perisai, tidak hanya dimaknakan sebagai
alat perlindungan diri dan untuk menangkis serangan, tetapi merupakan fondasi yang menopang kehidupan serta keberlangsungan kepemimpinan di Butta Gowa.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
